The Power Of Dream : Kuliah Lagi

Kuliah Mercu Kalian percaya mimpi? Saya sangat percaya.

Percaya kalau mimpi bukan hanya sekedar bunga tidur? Saya juga mempercayainya.

Apakah setiap mimpi bisa mewujud nyata? Jelas!

Saya seorang pemimpi? Iya, saya seorang pemimpi, tetapi saya juga bukan hanya orang yang tidur dan bermimpi. Bermimpi sah-sah saja, asal jangan terus-terusan berkhayal dalam dunia mimpi.

Ya, kita hidup di dunia nyata. Dimana dunia ini selalu mengajarkan bahwa kemarin adalah masa lalu, sekarang adalah kenyataan, dan besok adalah harapan. Setuju?

Cerita ini akan panjang adanya, siapkan seduhan kopi dan juga cemilan untuk membacanya. *eh apa sih* :p soalnya ini merupakan curhatan pribadi dari saya, yang merasakan bahwa mimpi itu benar adanya juga benar nyatanya.

Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb.

Selama bertahun-tahun saya memimpikan untuk bisa melanjutkan pendidikan saya ke jenjang Strata-1 akhirnya bisa terwujud.

Senangkah? Tentu saja. Siapa siy yang tidak senang kalau salah satu mimpi terbesar dalam hidupnya bisa terjadi secara nyata.

Kemarin, akhirnya peresmian penerimaan Mahasiswi baru di Universitas Mercubuana untuk angkata ke-22 tahun 2012. Mungkin saja, ini menjadi hal biasa untuk sebagian orang. Apa siy istimewanya? Bukannya itu hal yang biasa? Tidak, tidak menurut saya. Dengan profesi sebagai Buruh yang tidak ada keren-kerennya akhirnya saya menginjakkan kaki ini ke wilayah Universitas tersebut, untuk menuntut ilmu, yaitu belajar.

Ada tangis haru dalam acara tersebut. Saya lebay yah? Biarkan saja, sematkan saja anggapan itu untuk saya. Saya benar-benar merasa trenyuh bahkan tidak bisa berhenti untuk mengucapkan syukur dan juga menengadahkan tangan kepada Allah. Terima kasih untuk kesempatan yang di berikan kepada saya.

Hal ini menyenangkan, sangat menyenangkan. Saya yang notabene bukan dari keluarga kaya, bahkan jauh dari hal tersebut. Merasa ini rizki terbaik yang Allah titipkan untuk saya dan juga mama saya. Betapa beliau senang dan bangganya sebelum saya berpamitan untuk berangkat.

“Sukses ya, Mbak Ndue.”

Saya mengecup tangannya. Menahan agar kedua mata saya ini tidak mengeluarkan bulir-bulir air mata penuh cinta dan sayang, juga harapan dari mama saya. Saya berangkat menyongsong mimpi saya selanjutnya untuk mendapatkan sebuah toga.

Pendidikan yang saya tempuh hanya membutuhkan waktu dua tahun saja. Karena sebelum-sebelumnya saya sudah menuntaskan pendidikan saya tersebut di jenjang D3. Saya banyak maunya, ya?

Mungkin sebagian orang menganggapnya seperti itu. Bahkan mama saya juga menganggapnya cukup hanya D3 saja, karena itu sudah cukup untuk seorang perempuan, yang berujung juga di dapur. Juga melihat biaya yang harus di tempuh untuk Strata-1 lumayan mahal untuk saya.

Tetapi, Alm. Bapak saya selalu menguatkan saya.

“Bapak bukan seorang yang pintar dan kaya. Bapak mau, kamu jadi bisa lebih dari Orang Tua kamu.”

Dan sampai kepergian beliau, saya belum punya kesempatan untuk mewujudkannya.

“Bapak mau kamu menuntut ilmu setinggi-tingginya. Karena ilmu di Akhirat nanti akan balik menuntutmu. Kenapa selama di dunia ini kamu tidak rajin menuntutnya?”

“Apa benar seperti itu, Pak?”

“Iya, karena Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Jangan sayang karena waktu dan uangmu. Ilmu banyak manfaat untukmu. Terus belajar, jangan kebanyakan main.”

“Insya Allah, Pak. Insya Allah aku akan menuntut ilmu semampuku. Mohon do’a dan Restunya.”

Sampai beberapa tahun kemudian Bapak akhirnya meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Dan saya semakin meyakini mimpi terkuat saya. Mimpi untuk menjadikan harapannya nyata. Tanpa harus menyusahkan Mama juga Bapak.

Sambil mengheningkan cipta, kemudian di lanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Bangunlah badannya, bangunlah jiwanya, untuk Indonesia Raya.”

Dan saya menangis sesenggukan. Saya masih tidak percaya betapa saya sekarang bisa berdiri disini. Diantara 3 ribu orang lainnya yang mendaftarkan sebagai Mahasiswa/I baru. Saya membayangkan di depan saya ada Alm. Bapak saya tersenyum dan menyemangati saya. Bahwa ini adalah awal untuk mimpi saya.

Bapak saya adalah orang yang tidak main-main mengenai pendidikan. Dia ingin anaknya tidak mengecewakan keluarga. Dulu, saya menganggapnya sangat keras bahkan saya tidak suka dengan cara belajar yang di tetapkannya.

Selama belajar, saya ditungguin di sebelahnya. Tidak ada teve yang menyala, tidak ada komunikasi via telephone. Bapak setia menunggui saya di sebelah saya. Entah dia duduk, atau pura-pura tidur.

Pernah, satu ketika saya belajar tidak serius hanya sekedar corat-coret buku sekolah saya dengan bahasa-bahasa kelabilan saya. Saya pikir Bapak tidak akan tahu karena saya melihatnya sedang tertidur.

“Belajarnya kok begitu, cuman corat-coretan doang apa yang kamu pelajari?”

Saya manyun. Saya ngedumel. Saya beneran geram saat-saat itu. Cara belajar seperti ini saya jalani selama 3 tahun di Sekolah Menengah Kejuruan. Sampai akhirnya saya menghadapi kelulusan.

Betapa bahagianya saya, ketika di dapuk sebagai Siswi Berprestasi. Saya tersenyum bahagia. Yang menjadi ingatan saya adalah, Bapak saya tersenyum didepan mata saya dan mengucapkan selamat atas prestasi yang saya peroleh sampai dengan saat itu.

Akhirnya saya sadar.

Bahwa setiap apa yang menjadi keberhasilan seseorang pastilah membutuhkan perjuangan. Tidak ada kemenangan tiba-tiba. Adanya adalah warisan atau pemberian Cuma-Cuma. Bapak saya tidak mengajarkan adanya kemenangan secara tiba-tiba tersebut.

“Semua yang ada di Dunia ini adalah penuh perjuangan. Kamu percaya?”

“Pecaya, Pak. Sangat percaya.”

Saya menjawabnya saat menerima penghargaan tersebut.

Dan akhirnya saya merindukan metode belajar seperti itu. Saya merindukan sosok seseorang yang dengan sabarnya menunggui saya membaca, menulis ringkasan, dan menjabarkan dalam pelajaran untuk besok.

Tulisan ini sengaja saya tulis untuk mengingatkan saya jikalau nanti di pertengahan jalan untuk mengejar mimpi ini, saya merasa harus beristirahat. Saya tidak akan menghentikan langkah saya untuk selalu mewujudkannya. Karena ada Bapak saya di depan pandangan mata ini untuk selalu membantu dan menyemangati saya tanpa lelahnya.

Saya selalu percaya mimpi. Saya percaya bahwa Allah selalu menyayangi hamba-hambanya yang berusaha untuk mewujudkannya menjadi nyata. Dan saya juga percaya bahwa apa yang di usahakan hari ini akan terjadi kemenangan di waktunya nanti.

Seperti yang saya tuliskan dalam self note di buku catatan kecil saya.

“I always believe in the power of dream, effort, and pray. Because in a victory, there’s always sacrifice with in.”

Walaupun bahasa inggris saya belum sempurna, saya belajar untuk suatu saat menuliskan sebuah cerita di rumah saya ini dengan bahasa inggris. Amin.

Jika sudah seperti ini, apakah kalian masih takut untuk bermimpi? Jangan! Lekas kejar mimpimu dengan usaha dan berdo’a.

Now, I can make one of my dream became true, don’t you?

Jakarta, 04 Maret 2013.

 

Ditulis di sela-sela jam makan siang. butuh beberapa kali saya menghela nafas untuk tidak cengeng dengan menitikkan air mata setiap mengingat kejadian-kejadian kemarin, juga beberapa waktu lalu bersama Alm. Bapak.

sign

11 thoughts on “The Power Of Dream : Kuliah Lagi

  1. wah apik tenan, slamet ya nduk, mugo2 lancar kaji gangsar tamat ora menthok neng skripsi
    ta dongakno slamet nganti wisuda…….
    njupuk jurusan opo nduk? akuntansi or perpajakan or bisnis #no ra yo?

    • Amin ya Allah. nah itu mbah. aku takut kalo kepentok skripsi. :(

      aku njimuk akuntansi mbah, namingo penjuruane lebih cenderung ke Auditor. pengen yang namanya belajar ngaudit. kalo pajek aku bisa-bisa migrain setiap hari mbah. :|

      Simbaaaaaaaaaaaaaaaahh. suwun sanget pandungane, nggihh.. AMiiiinnnn.

  2. Allah hu akbar …
    Mbak ee.. selamat ya, asmie ikut bangga denganmu, capai yang tinggi setinggi tingginya ya…
    Tuntaskan dengan sangat baik ya…
    Semoga menjadi manusia bermanfaat dengan ilmu mu ya mbak eee…
    #sungguh sangat tulus dari asmie#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,919 other followers

%d bloggers like this: