Bukan Sekedar Yatim Piatu

Sudah sebulan di kantor ada seseorang yang membantu buruh seperti saya ini untuk mencari makan siang dan membersihkan kantor. Saya tidak pernah ingin melabelinya dengan predikat office boy.

Menurut saya, tidak ada yang membedakan status pekerja satu sama lain. Semuanya sama, berkesinambungan dan membutuhkan satu sama lainnya. Saya tidak akan nyaman tanpa adanya orang yang membantu membersihkan kantor. Saya tidak akan cukup waktu makan tanpa adanya orang yang membantu membelikan saya makan siang.

Saya menyebutnya seseorang itu asisten kantor. Keren, kan? Ya dong, gak selalu semuanya dilabeli pembantu atau office boy. Saya lebih suka menyebutnya asisten. Selain mengingatkan saya bahwa dia tidak hanya berjasa dalam kehidupan kantor, tetapi saya banyak belajar dari setiap asisten yang ada.

Asisten kantor kali ini bernama Rizky, saya memanggilnya Dek Rizky. Usianya baru 16 tahun dan dia seorang yatim piatu. Dia bersekolah dan pendidikan terakhirnya Sekolah Menengah Pertama. Bapak ibunya meninggal dua tahun yang lalu. Dan dia dititipi 3 orang adik.

Pernah satu waktu saya melihat dia seperti sedang merasakan sesuatu, tetapi ketika saya tanya kenapa jawabannya selalu sama. “Gakpapa, Kak. Rizky baik-baik aja.”

Percakapan rekan buruh dikantor pernah menggetarkan hati saya. Dan saya segera bersimpuh menghadap Allah memohon segala kebaikan untuknya.

“Rizky, orang tua kamu kemana?”

“Mereka meninggal, Kak.” Jawabnya bergetar. Dan saya merasakan betapa dia menahan gejolak yang ada di dalam perasannya.

“Inalillahi. Kapan dek?” Tanya saya.

“Dua tahun yang lalu ibu meninggal karena sakit, terus setahun yang lalu bapak meninggal, Kak. Seperti nyusul ibu. Tetapi aku seneng karena cinta mereka benar-benar sejati.”

Saya tersenyum dan menahan haru atas jawaban yang diberikannya. Dia menunduk tidak menatap wajah saya sedikitpun.

“Terus kamu sekarang tinggal sama siapa disini?” Tanya rekan buruh saya yang lain.

“Disini sama adik yang terakhir paman, bibi, dan nenek. Adik yang kedua dan ketiga ada di nenek dari bapak, Mas. Kami dipisah semenjak kepergian orang tua kami.”

Mas tono, rekan buruh saya melihat mata saya. Bergetar suaranya ketika menanyakan pertanyaan selanjutnya.

“Nenek kamu kerja? paman dan bibi gimana?”

“Nenek gak kerja, Mas. Bibi juga cuman paman yang kerja jadi buruh pabrik di jelambar, Mas.”

Tangan saya mengelus dada ini, dan berujar suatu kalimat Astaghfirullahaladzim… Ya Allah, sungguh semua ciptaanmu hanya Engkau yang mengerti seperti apa cerita kehidupannya. Kami pasrahkan..

“Kamu gak kangen sama adik-adik kamu?”

“Kangen mas, tapi gak bisa sesekali jenguk mereka.”

“Kamu yang sabar dan jangan nakal yah Riz. Dijaga baik-baik adiknya yah.”

Dan Mas Tono berlalu. Rizky juga. Mas Tono seakan berlalu untuk menutupi rasa nestapa yang dirasakan Rizky seumur hidupnya.

Setiap harinya Rizky rajin banget membersihkan kantor dan mencuci piring. Bahkan dia gak pernah sedikitpun terlihat lelah dan mengeluh. Dia juga selalu memperlihatkan dirinya baik-baik saja. Seperti menunjukkan suatu kalimat kepada kami.

“Tolong jangan kasihani saya, jangan kasihan melihat saya yang menjadi anak yatim-piatu, saya akan kuat menerima jalan hidup ini.”

Dan kami mengerti atas kalimat-kalimat yang ingin dia sampaikan. Saya yang notabene ditinggal pergi bapak saya dua tahun yang lalu, tidak pernah bisa seikhlas mungkin menerima keadaan bahwa dia telah tiada. Saya masih berfikir bahwa bapak saya masih ada, dia hanya berpindah rumah. Kami masih bisa bertemu dan berbagi rindu dalam mimpi. Apalagi harus menjadi seperti adik asisten ini? Masya Allah.. 😦

Setiap kali mendengar cerita tentang adik-adiknya hati saya semakin miris. Andai saja penghasilan saya sebagai buruh sudah mencukupi untuk membantu adik-adiknya, saya pengen banget jadi orang tua asuhnya. Tetapi, penghasilan saya pas-pasan dan saya hanya bisa membantu sebisa dan semampu saya. Ya Allah. 😦

“Adik kedua saya namanya Risma, Kak. Dia udah mau lulus SMP, Kak. Kalau yang ketiga namanya Zidan dia udah mau lulus SD, Kak. Kalau yang terakhir namanya Ilham, dia mau lulus TK, kak.” Ceritanya dengan riang.

Saya kemudian tersenyum dan melihatnya berbinar. Saya jawab ceritanya itu.

“Dek, kelak kamu akan tahu mengapa kamu diberi nama Rizky. Karena Allah menitipkan keberkahan keluargamu dari kamu. Semoga Rezeki Allah senantiasa mengalir melalui kamu Rizky. Dan berguna untuk adik-adik kamu. Karena rezeki Allah yang besar dan nyata adalah Kamu.”

Kali ini dia tidak bisa menahan tangisnya. Saya melihatnya dan saya ingin melebur menjadi satu dalam tangisnya. Kami bahkan ikut merasakan duka yang mendalam untuk Rizky.

Sampai akhirnya saya paham bahwa seorang yatim-piatu lebih kuat dan sabar dibandingkan siapapun di dunia ini. Karena mereka telah diuji sama Allah dengan mengambil orang tua mereka untuk selama-lamanya.

Semoga Allah menaikkan derajat dan mertabat anak-anak yatim-piatu yang lainnya. Dan juga melimpahkan rezeki dari pintu manapun. Karena Dia memang Maha Penyayang juga Maha Pengasih. Amin..

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

17 thoughts on “Bukan Sekedar Yatim Piatu

  1. assalamualaikum wr.wb.
    mbak, kalau boleh tau dimana saya bisa menghubungi Rizki ? mudah-mudahan ada rejki dari anggota pengajian yang bisa disisihkan setiap bulan untuk sekolah adik-adiknya.

    wass

      • Mbak mohon info email adress, saya akan kirim data saya untuk dek Rizki. Saya mengkoordinir bantuan pendidikan untuk yatim piatu dan duafa, saya berniat akan mengirim dana bulanan selama dana yg disaya masih ada, syaratnya cuma setiap terima raport harus dikirim ke saya sebagai bukti bahwa anak yg di bantu masih sekolah.
        Bila perlu dek Rizki bisa ketemu saya ( di Cilandak ).

        Wass

      • Mas Yus, silahkan email ke siibocah[at]yahoo[dot]com

        sekalian nanti saya tanyakan Rizky yah. kebetulan kalau Rizky sudah lulus SMP hanya adik-adiknya saja yang belum lulus dari TK, SD, Maupun SMP.

        Mas, terima kasih banyak atas tawarannya yah dan bantuannya. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap langkah yang di lalui. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: