The Power Of Dream : Alhamdulillah Sudah Syah

Bismillahirohmanirrohim.. Saya menikah denganmu. Barakallah, Barakallah, Barakallah..

Sebelumnya saya minta maaf kepada teman-teman untuk tidak mengabari kelanjutan dari postingan saya sebelumnya yang berjudul Finally, i’m getting married! Harus saya ceritakan sebelumnya bahwa beberapa hari yang lalu saya sedang merasakan nikmat dari sakit gigi. Iya, gigi bungsu saya baru numbuh diusia saya yang sudah setua ini. Dan akibatnya, selama seminggu saya hanya makan bubur atau nasi lembek karena kebengkakan yang ada. Yasudah, Alhamdulillah sekarang sudah baikan dan saya bisa makan dengan normal. Hanya saja memang dibutuhkan waktu untuk mencabut gigi saya tersebut dengan jalur operasi kecil, saya berfikirnya nanti saja kalau memang sudah benar-benar baik. Tetiba juga saya kepikiran bahwa tahun lalu saya dioperasi kecil di bagian bibir, dan tahun ini saya mendapat panggilan untuk dioperasi lagi di sekitar mulut. Tetapi, itu semua rezeki dari Allah yang sangat menyayangi saya, tidak pernah berhenti menyayangi saya walau sedetikpun. Alhamdullilah. 😉

Well, kali ini menjadi panjang postingannya. Karena saya akan mencurahkan betapa saya bahagia telah menjadi syah dengannya. Dan betapa saya bersorak kegirangan menanti saat-saat bisa ber-honey-moon dengan pasangan saya ini. Mohon sekiranya tidak bosan untuk membaca tulisan saya ini ya, temans 😉

Tepatnya hari kamis minggu lalu tanggal 20 Juni 2013 pukul 15.00 saya mengucapkan akad dan menandatangani surat perjanjian untuk jangka waktu tertentu. Kali ini pernikahan saya disaksikan oleh Notaris juga Pejabat Bank. Yap, saya menikah dengan sebuah rumah dan saya berhasil menunaikan akad kredit untuk menjadikan rumah tersebut syah menjadi milik saya selanjutnya.

Teman saya pernah bercerita, bahwa dalam kehidupan manusia itu ada yang namanya pernikahan. Pernikahan itu sendiri bisa saja kita dengan manusia ataupun rumah. Hanya beda saja bahasanya. Kalau menikah dengan manusia itu disebut akad nikah, sedangkan untuk menikah dengan rumah disebutnya akad kredit (ini untuk pengambilan rumah yang menerima fasilitas kredit kepemilikan rumah).

Setelah 3 bulan saya menunggu kepastian atas pengajuan rumah saya tersebut, alhamdulillah kabar itu datang dari Mama. Selama proses pengajuan ini, saya banyak merepotkan beliau. Mom, i’m so sorry for make you feel so tired sometimes. 😉 tetapi sudah komitmen saya dari awal, bahwa setiap proses yang dilalui maunya diantar oleh Mama. Walaupun kekasih saya atau bahkan saudara saya itu bisa saja mengantarkan saya, tapi saya maunya Mama. Karena saya selalu percaya bahwa restunya Mama adalah restunya Allah juga. Dari hal itu, saya selalu meminta bantuan Mama saya untuk merestui dan mendo’akan saya untuk di permudah segala sesuatunya.

Mama juga pernah berpesan kepada saya, bahwa apapun keputusan pihak Bank nanti ikhlaskan saja. Karena kita sebagai manusia jangan selalu berfikir dan berkeinginan muluk-muluk. Melebihi batas dari ego kita. Intinya, ikhtiar saja, serahkan kepada Allah untuk keputusan terbaiknnya. Saya mengangguk menyetujuinya walaupun penuh dengan perasaan dag-dig-dug dan bersyukurnya gak make duer. =))  Setiap hari saya membaca dari media internet tentang berapa lama proses pengajuan KPR, kenapa KPR tersebut di tolak, dan bagimana langkah selanjutnya apabila KPR tersebut di tolak. Dan semakin membuat saya parno tidak karuan.

Sampai akhirnya, mama saya menelephone mengabari bahwa KPR saya di setujui dan saya akan bisa menempati rumah tersebut apabila nanti telah diselesaikan pembangunannya. Respon pertama saya? Saya menangis. Yap, saya cengeng, sangat cengeng. Tetapi rasa haru dan bersyukur itu melebur menjadi satu ketika kabar itu saya terima. Bocah-bocah dikantor sorak bergembira mengucapkan selamat dan bersyukur karena akhirnya saya mendapatkan kabar gembira hari itu. Saya ingat tepatnya hari sabtu tanggal 15 Juni 2013. Bocah-bocah dikantor juga senang karena mereka akan sering kerumah saya nantinya untuk sekedar jogging ataupun olahraga yang disediakan di komplek tersebut. Dan juga mereka senang karena rumah tinggal saya nanti jauh dari kebisingan kota Jakarta.

Yap, saya akan pindah domisili. Insya allah nantinya saya menjadi warga Tangerang dan tepatnya di Sepatan – Tangerang Utara. Jauh dari tempat tinggal saya sekarang Kalideres – Jakarta Barat.

Kenapa harus di Sepatan?

Saya sudah frustasi untuk mencari lokasi perumahan di sekitar Poris – Tangerang. Tempo hari saya sudah mensurvey beberapa perumahan daerah itu. Tetapi hasilnya nihil. Bukan karena perumahanya sudah habis, tetapi harganya itu yang menyedihkan. Saya bahkan pernah menulis keputus-asaan saya tempo hari dalam postingan saya bulan september tahun 2012. Cuplikan kalimat keputus-asaan saya kala itu.

Ketika siangnya saya melakukan survey rumah untuk menjadi hunian keluarga mungil ini. Tetapi semua runtuh begitu saja, ketika hunian tersebut harganya sangat tidak manusiawi, dan juga sudah sebagian penuh.

Saya mengubur mimpi dan keinginan itu dalam-dalam.

Saya lesu, sangat lesu.

Dan akhirnya saya benar-benar memendam mimpi tersebut sampai dengan beberapa bulan kemudian. Akhirnya saya coba bicarakan kembali ke Mama saya untuk merestui pilihan yang sangat berani ini. Beberapa kali Mama saya tidak merestui karena dianggapnya saya belum cukup dewasa untuk memikirkan hal ini. Tidak mempertimbangkan resiko yang terjadi dikemudian hari, termasuk akan ada titik jenuh dalam hal selanjutnya saya membayar angsuran hutang ke Bank. Dan entah kenapa sampai akhirnya Mama saya menyetujuinya saat itu juga, dan Alhamdulillah Mama juga membantu saya dalam hal keuangan untuk mengurus rumah ini.

“Kenapa sampai akhirnya Mama mengizinkan untuk saya mengambil rumah tersebut, Ma?”

“Mungkin ini disebut jodoh. Karena beberapa waktu yang lalu Mama juga tidak mengerti kenapa belum sreg hatinya untuk merestui kamu.”

Pembicaraan saya malam itu berakhir dengan betapa sayangnya saya dengan Mama saya saat itu, esok, dan seterusnya. J

**sedikit flashback**

 

Sedari saya umur 3 tahun, Mama dan Bapak sudah merantau di Kota Jakarta ini. Saat itu saya masih sangat kecil untuk mengetahui apa itu kehidupan. Yang saya tahu hanyalah bermain dan menangis. Selebihnya semua berjalan begitu saja. Saya ikut Mama dan Bapak yang merantau di Jakarta.

Sampai akhirnya saya melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar yang juga di Jakarta ini. Peristiwa reformasi tahun 1998 yang juga menjadi awal lengsernya pemerintahan orde baru juga menjadi hal yang menyeramkan untuk saya. Banyak orang yang menjadi bukan manusia lagi. Mereka marah membabi-buta rasanya ketika mereka membali sebuah mobil kemudian membakarnya tepat di depan mata saya. Jalanan kemudian menjadi sepi, sunyi, dan tidak ada seorang pun yang lewat di jalanan depan rumah kontrakan saya.

Penjarahan dimana-mana, Jakarta menjadi kelabu saat ini. Dan menyeramkan buat saya. Mama dan Bapak bergantian menjaga sebuah toko bangunan yang menandakan bahwa toko bangunan tersebut milik pribumi, jangan di rusak sedikitpun. Orang tua saya bergantian dengan beberapa warga yang menjadi penghuni rumah kontrakan. Saya menangis ketakutan, takut terjadi apa-apa dengan Orang tua saya. Dan mereka akhirnya memindahkan saya untuk bersekolah di Klaten saja.

Setelah lulus SD dan SMP saya diminta kembali oleh Orang tua saya untuk bersekolah di Jakarta. Waktu itu tahun 2004 dan usia saya sudah 14 tahun. Banyak hal yang berubah, tetapi tidak dengan keadaan rumah kontrakan. Orang tua saya masih betah menghuni rumah yang hanya dua petak saja. Alhamdulillah yang penting kami masih dicukupkan rezeki sandang, pangan, dan papannya. 🙂

Selama saya SMK, ataupun saya kuliah, saya suka iri hati sama teman-teman saya yang memiliki rumah dengan kamar masing-masing. Sewaktu kuliah saya sudah pindah kontrakan menjadi tiga petak. Penyakit iri hati saya ini tidak sembuh-sembuh ternyata, temans. Itu sangat tidak baik dampaknya untuk saya yang kemudian menjadikan saya uring-uringan. Saya kepengennya punya juga ruang pribadi untuk saya nangis, ketawa, berkeluh kesah, telephone-telephonan dengan yang namanya gebetan mungkin. Karena dulu, sewaktu saya SMK dan Kuliah semester pertama saya masih betah berstatus single. *abaikan*

Dari penyakit itu, saya selalu bertanya kepada Bapak dan Mama, sampai kapan kita harus seperti ini. Saya bahkan dengan teganya diam tanpa bicara ke mereka beberapa hari. Yang saya ingat, Bapak saya berpesan satu hal:

“Nduk, kamu jangan kepikiran dan iri hati lagi, ya. Maafkan Bapak yang tidak bisa memberikanmu rumah dengan yang kamu inginkan. Karena beginilah keadaan Bapak. Kalau kamu dewasa nanti, kamu akan semakin tahu bagaimana menyikapi hal ini. Pesan Bapak, jangan mengandalkan Orang tua, carilah apa yang kamu mau. Gapailah setiap mimpi dan keinginanmu, dengan usahamu sendiri. Bapak sama Mama bantu dengan do’a dan kemampuan kami.”

Saya nangis. Saya bodoh. Dan saya merasa seperti anak durhaka.

Saya digelapkan oleh kemerlap rumah yang dimiliki oleh teman-teman saya. Saya menjadi egois dan saya semakin tidak bersyukur dengan apa yang saya miliki saat itu. Saat itu juga saya berjanji kepada diri saya dan Orang tua saya, bahwa saya akan belajar untuk menjadi pintar dan bijaksana. Untuk bermimpi, dan untuk meraihnya.

**27 Mei 2011**

 

Inalillahi waina illaihi roji’un

Bapak meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Menjadi duka dan kehilangan yang tidak akan pernah kami lupakan. Bapak sudah sakit sedari awal tahun 2011. Beliau dirawat di Klaten dengan Mama. Dan saya disini dengan saudara saya satu-satunya tersebut. Seperti halnya rumah kontrakan tersebut menjadi rumahnya Bapak saya meninggalkan kami dirumah itu. Padahal Bapak baru sampai di Jakarta minggu sore, dan Bapak meninggalkan kami hari Jum’at jam 08.00 pagi.

Begitu cintanya beliau dengan rumah yang menjadi saksi bagaimana dia bercengkerama dengan anak dan istrinya, menjadi saksi bagaimana rumah tersebut menjadi tempat kami berteduh dari hujan dan panas diluar sana, dan menjadi saksi bagaimana akhirnya kami membicarakan mimpi dan meraihnya.

Sampai dengan perginya beliau, saya masih memegang janji untuk tidak mengungkit rasa iri hati dan kemudian semakin gigih untuk mengejar apa yang juga menjadi impian keluarga kecil ini.

Kami hanya ingin memiliki rumah. Hanya itu.

Alhamdulillah, mimpi itu menjadi kenyataan kini. Allah membuktikan bahwa segalanya menjadi mungkin apabila hamba-Nya percaya, usaha, dan berdo’a kepada-Nya. Kun fayakun apa yang terjadi maka terjadilah.

Ketika harapan tersebut seakan tidak mungkin, Allah membuatnya menjadi mungkin. Ketika saya merasa lemah dan sudah tidak bersemangat dalam mewujudkannya nyata, Allah menghadirkan Bapak dalam mimpi-mimpi saya beberapa waktu. Allah seakan menunjukkan bahwa saya tidak harus menyerah, dan jangan pernah menyerah. 🙂

Dan satu lagi mimpi besar saya selama 10 tahun menjadi nyata. Mimpi terbesar dalam hidup saya, bisa dikatakan seperti itu. Alhamdulillah, dan nikmat Allah mana lagi yang hendak akan saya dustakan?

P.S : Saya berterima kasih sebesar-besarnya atas setiap dukungan dan do’a dari rekan terdekat saya.

  • Syukron Allahku untuk segala nikmat dan pertolonganMu.
  • Terima kasih Mama atas setiap keringat yang menetes untuk saya, untuk semua do’a yang terucap untuk saya selama ini, i really nothing without you, mommy. *smooch*
  • Untuk Simbok dan Kakek (Pak Tuwo) yang selalu saja setia menunggu kabar berita dari keluarga kami yang di Jakarta. Dan juga terima kasih untuk setiap restu yang tercurah dari kalian. Ahh, how glad i’m to be your grandchild. *smooch*
  • Untuk kekasih saya yang sedari awal saya repotkan dengan bertanya ini-itu, untuk setiap keringat dan panas yang menyengat di setiap porimu untuk mengantarkan saya bolak-balik selama pencarian rumah tersebut, i really love you.
  • Terima kasih juga untuk Saudara saya satu-satunya Titis yang selalu menjadi backup support dan menjadi tawa disaat saya resah dan cemas, thanks a lot.
  • Terima kasih banyak untuk dukungan, do’a, dan ucapannya untuk semua bocah-bocah dikantor. Rinda, Miska, Faam, Devi, Kak Anas, Mas Tono, Mas Dayat, Fiti, Rika, Diah, Yuni. You’re ruck gaws!
  • Dear Kak Okta, terima kasih untuk nasihat dan untuk segala masukan menjadi dewasa dan tidak mudah lelah untuk berusaha. Saya banyak belajar dari Kak Okta, makasih banyak ya sist. Thanks for always give me advice.
  • Untuk Ibunya Abang Hafiz, yang juga meyakinkan bahwa saya pasti bisa untuk mengambil langkah ini. Untuk malam yang dilewatkan dengan berbagi cerita. Untuk semua dukungannya juga. Thanks for always believin me.
  • Untuk Kak Ega, Asmaralda Putriku, dan banyak rekan dari ex-kampus BSI yang menjadi wadah untuk saya nanya ini-itu digangguin tengah malam, dan juga menjadi tempat mencurahkan kegalauan saya. Hahahaha. Thanks for being my besties.
  • Untuk Nyonyah AnneMbak Yunita Rahma, Mbak Sawitri yang juga menjadi tempat saya meminta do’a dan menjadi tempat curhatan setiap kegalauan juga kabar dari saya untuk kalian. Hahaha, thanks for always caring and praying for me. :*
  • Dan masih banyak pihak yang tidak bisa saya sebutkan untuk seluruh dukungan dan do’anya. Thanks so much!

Ini saya menulis ucapan terima kasih seperti kata pengantar, ya? Hahaha. Iya, saya sedang senang tidak karuan. Alhamdulillah.

Februari 2013

*Sang kekasih sewaktu panas-panasan survey lokasi bulan Februari. Yap, he’s totally so cool! (mukanya gak kelihatan siy) =))*

IMG-20130224-00124*Mama dan Saudara saya satu-satunya yang juga bantu melihat sewaktu bulan februari 2013. Kunjungan pertama mereka saat itu. :)*

April 2013*Mama dan Saya melihat kembali. Ini bulan April 2013, selesai saya wawancara dengan pihak Bank.*

Juni 2013*This is it.. setelah perjalanan yang melelahkan. Sudah mulai kelihatan bentuknya. Alhamdulillah. Ini baru pulang kemarin bulan Juni 2013.*

Semangat selalu, ya!

sign

Advertisements

8 thoughts on “The Power Of Dream : Alhamdulillah Sudah Syah

  1. wooo… orang Klaten to. sugeng dalu mbak e.
    Saya tengah bulan Juni lalu juga baru ttd akad kredit rumah. Rumah sudah siap huni, tapi baru mau pindahan setelah Lebaran.
    Rumah baru semangat baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: