Pernikahan Paksa

“Baiklah, jadi sudah ditetapkan untuk tanggal baiknya, ya?”

“Sepakat. Kami akan menyiapkan langkah selanjutnya.”

“Buatkan pesta sebaik mungkin untuk kami.”

“Anda bisa percayakan kepada kami.”

Sayup terdengar perbincangan beberapa orang di ruang tamu keluarga. Tamu-tamu itu tidaklah asing bagiku. Beberapa diantaranya menggunakan jas dan berdasi. Sangatlah sopan.

“Baiklah kalau begitu kami pamit pulang dahulu, karena sudah malam juga.”

“Silahkan, Pak.”

Beberapa waktu lagi, tiba saatnya untukku melepas masa gadisku untuk menikah dengan seseorang. Menjadikannya sebagai seorang imam dan juga surgaku. Bagaimanapun sikapnya nanti, dialah yang menentukan kelak aku menjadi penghuni surga atau malah neraka.

“Sebelum kami pulang, ini saya serahkan untuk persiapan pesta nanti. Jangan kecewakan kami.”

“Tentunya, Pak.”

Aku tidak pernah merasakan bagaimana menjadi remaja dimabuk cinta yang pepatah bilang sejuta rasanya itu. Rasanya, baru kemarin aku mengenyam pendidikan SMP dan mendapatkan juara 1 sewaktu kelulusan Sekolah Menengah Pertama. Dan belum genap setahun aku menjadi Siswi Sekolah Menengah Atas, Bapakku menjadikanku seorang pengantin muda.

Muda usiaku, muda pemikiranku, muda juga perasaanku.

“Aku belum siap, Pak.” Ucapku beberapa jam sebelum pertemuan keluarga ini.

“Masa bodoh dengan persiapan, lama kelamaan juga kamu akan siap.”

“Tapi, Pak…..” Belum sempat aku bicara, Bapak membentakku.

“Mau jadi anak durhaka kamu!!”

Dan aku menangis sejadi-jadinya. Ingin rasanya lari dipelukan Ibu, tapi Tuhan mengambilnya dahulu, sebelum dia menyaksikan putrinya kini bersekolah di SMA terbaik karena beasiswa yang di dapat.

Mau nangis sampai mataku sembab dan susah melihat pun tak ada gunanya. Tanggal tersebut telah ditentukan. Seminggu kedepan nanti, aku menjadi istri orang.

Calon suamiku tidaklah buruk-buruk sekali. Dia pria yang bekerja dan mempunya kehidupan jauh dari mapan. Dia seorang direktur perusahaan pertambangan. Bapakku mengenalnya, karena dia atasan Bapak.

Bapak adalah seorang office boy dikantornya.

Ada satu penyebab ketika Bapak akhirnya memutuskan untuk menyetujui pernikahan paksaku ini dengan Pak Dion. Semasa hidup Ibuku, butuh uang yang tidak sedikit untuk membeli dan biaya pengobatannya. Ibu terkena penyakit liver, perutnya membesar, dan aku tak tega melihat perkembangan dari penyakit Ibu. Setiap hari Ibu meringis kesakitan memegang perutnya. Ahh.. Ibu, andai saja aku bisa berbagi sakit denganmu, pasti aku bisa merasakan sakit yang engkau rasa.

Karena hal itu, akhirnya setiap cuci darah dan pengobatannya, Bapak kerap meminjam uang ke perusahaan Pak Dion. Tanpa terasa pinjaman itu semakin membengkak, dan keluarga kami kehabisan cara untuk melunasinya.

Dengan terpaksa, akulah yang dijadikan alat untuk membayar hutang ke Pak Dion. Dia tahu Bapak mempunyai seorang gadis karena aku pernah mampir ke kantornya. Waktu itu aku menangis karena keadaan Ibu semakin memburuk. Aku meminta Bapak untuk menemaniku menjaga Ibu. Tanpa sengaja Pak Doni bertemu denganku.

Cinta pada pandangan pertama. Itu alibi yang digunakan untuk meyakinkan Bapak. Apapun itu menurutku adalah dusta. Mana ada seorang atasan yang jatuh cinta begitu saja dengan anak office boynya? Oh ada, cerita di FTV saja.

Waktu berjalan lamban menurutku, tetapi pasti untuk nasibku. Dan tanpa terasa, seminggu telah berlalu. Siang ini aku akan melaksanakan ijab qobul, dan resepsi pernikahanku sampai malam nanti. Semua ruang dirumah mungilku ini di hias oleh pernak-pernik pelaminan, berwarna merah muda. Sangat manis. Dan juga terlihat beberapa tetangga juga keluargaku lainnya mondar-mandir di tempat pelaminan dan dapur untuk membantu terlaksananya pernikahan paksa ini.

Ah.. Benar-benar aku bak seperti tuan putri hari ini. Semua dilayani dengan baik. Dan semua tampak sempurna. Bapak tidak ingin mengecewakan Pak Doni dan keluarganya.

Tapi, sudah ku putuskan kini. Bagaimana selanjutnya kisah hidupku. Karena bagaimanapun, aku menyayangi Bapak dengan seluruh hatiku.

Pak, maafkan aku selama ini tidak menjadi anak yang baik untukmu.

Sudah kusiapkan sebuah tali yang menjulur dari atap kamarku, dan juga sebuah kursi di bawahnya. Kelak, aku tidak perlu lagi menanggung beban kehidupan di dunia ini. Biarlah keadilan Tuhan nanti yang bekerja di akhirat.

Aku siap untuk gantung diri, dan mengakhiri ini semua.

Aku hanya tidak siap menjadi istri muda, dari seorang pria yang telah menikah sebanyak empat kali, dan usia kami terpaut jauh. Pak Doni lebih tua dibandingkan Bapak. Dia lebih pantas menjadi kakekku. Dan aku tidak siap menanggung cemooh orang lain.

Kelak, akan terkenang namaku “Cantika Putri” gadis berusia 16 tahun, seorang siswi SMA meninggal dunia dengan gantung diri tepat beberapa jam sebelum pernikahannya.

*Tulisan fiksi ini saya buat disaat saya menunggu jam masuk ujian statistika. Dan saya menulisnya di tempat yang tidak atau bahkan teman-teman saya tahu. Karena saya memang suka dengan tempat yang tidak banyak orang tahu.*

Sabtu, 27 juli 2013
15.30-16.15
Ditulis di Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana Meruya.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: