Pasrah, Kepasrahan, dan Dipasrahkan

Sudah lama sekali ya rasanya saya tidak mengupdate tulisan di halaman rumah ini. Saya sendiri akhir-akhir ini sedang dikejar dengan pekerjaan yang harus selesai dalam hitungan minggu. Sampai akhirnya saya benar-benar lupa untuk melanjutkan kesenangan dalam menulis.

Bahkan beberapa hari yang lalu, saya bercerita kepada sahabat saya untuk menulis lagi. Karena saya sedang merindu akan kegiatan ini. Proses mencari ide, merangkai kata, sampai menuliskan utuh menjadi sebuah cerita yang terkadang masih bisa saya baca. Sembari kemudian saya mengucapkan kalimat seperti ini.

“Dulu kok bisa ya saya menulis sebagus ini.” Hahaha. Ini seperti sanjungan kepada diri sendiri. Tapi benar lho, saya merasa dulu saya keren bisa menulis prosa manis, atau cerita-cerita fiksi yang manis juga. Walau, setiap saya menulis cerita fiksi terkadang saya selalu menuju ke arah adegan errrr, orang dewasa maksudnya.

Kembali lagi ke masalah yang ingin saya tuliskan dalam postingan kali ini.

Kalian pernah merasa pasrah? Atau pasrahkan saja? Atau juga pada akhirnya di pasrahkan saja? Saya pernah, walau tidak sering setidaknya saya pernah merasakan hidup saya dalam titik pasrah yang hanya bisa berdo’a segala sesuatu yang nantinya akan berlanjut itu menjadi kuasa Allah.

Moment ketika saya pasrah adalah ketika saya tergeletak di jalan raya akibat tertabrak mobil angkot yang juga pernah saya tuliskan disini. Saat itu saya rasakan benar-benar pasrah kalau saja dibelakang saya ada mobil yang mungkin bisa melindas saya. Atau kalau tidak motor yang saya gunakan diambil orang. Semuanya saya rasakan dalam tahap titik pasrah. Sambil saya melihat jalan aspal dan kerikil hanya berjalan 3cm dari wajah saya, akhirnya saya merasakan bagaimana rasanya jatuh di jalan karena tabrakan. Well, hari itu juga genap lebaran kurang 4 hari. Allah menguji saya untuk tidak ngebut ataupun merasakan sedikit titik pasrah dalam kehidupan saya.

Moment ketika saya pasrahkan hidup saya adalah sewaktu saya naik pesawat terbang, atau kapal ketika menyebrang pulau. Hidup saya seperti diombang-ambingkan diatas awan dan di laut. Saya yang notabene paling takut sama pesawat selalu gelisah untuk menggunakan alat transportasi tersebut. Sampai sekarang saya masih belum tahu cara untuk menghilangkan rasa cemas tersebut. Terlebih, bulan ini saya ada 2 kali jadwal penerbangan untuk ke Surabaya dan ke Medan. Saya sampai kebawa mimpi, kalau-kalau ada kenapa-kenapanya, saya gak tahu harus seperti apa. Pada saat itulah saya merasakan titik pasrah dalam hidup saya, kalaupun Allah mempunyai kehendak lain, pasti akan terjadi. Yang perlu diusahakan adalah menjadi manusia yang sebaik-baiknya dan bermanfaat untuk orang lain. Karena, mau dikenang sebagai manusia seperti apa, hanya kita yang bisa menentukan. Saya, dan diri saya sendiri. Bukan dari cerita Mama, atau rekan kantor, atau bahkan siapapun juga.

Kemudian ada moment disaat semuanya dipasrahkan saja kepada Allah SWT. Ketika saya dan keluarga mengetahui bahwa beberapa tahun lalu Bapak saya harus berkali-kali di rawat dan di opname di Rumah Sakit. Bolak-balik untuk menunggu Bapak saya yang kondisinya naik-turun membuat kami bingung untuk berbuat seperti apalagi supaya sakit yang dirasakan tidak begitu menyakitkan baginya. Melihatnya menangis, itu adalah hal yang menyedihkan untuk kami. Sampai akhirnya kami putuskan untuk mengikhlaskan apapun yang akan menjadi kehendak Allah yang memiliki segala kehidupan di muka bumi ini.

Dalam sujud, saya memohon untuk kesembuhannya. Dalam do’a saya memohon untuk rezeki yang Allah berikan dari perut bumi yang halal untuk saya. Dalam harap saya memohon kepada Allah untuk selalu memberikan semangat bagi kami dan Bapak untuk sehat dan melalui cobaan ini dengan baik. Walaupun kami tahu, kalau harapan itu tidak banyak. Tapi saya percaya kalau harapan dan kesempatan itu akan selalu ada, melalui cara apapun.

Melihat Bapak saya di sisa akhir hidupnya masih tersenyum dan memanggil sayang ke Mama adalah hal romantis di dunia ini. Hal yang menurut saya nyata untuk sebuah cerita cinta. Nyata untuk sebuah kisah yang akan saya kenang sepanjang hidup saya, dan setiap saya melangkah dalam jenjang umur dan kisah kehidupan, saya berdo’a supaya kelak saya mendapatkan seorang suami seperti Bapak dan saya bisa menjadi tegar seperti Mama. Semoga harapan saya kelak menjadi nyata.

Sampai akhirnya segala sesuatu tentang sakitnya Bapak, saya serahkan kepada Allah. Semuanya dipasrahkan untuk jalan terbaik bagi Bapak saya. Sebelum akhirnya semuanya berakhir, Bapak saya meminta maaf karena selama ini merasa dirinya merepotkan kami. Tidak Pak, semua itu tidak bisa di gantikan dengan usaha Bapak untuk menjadi orang tua yang paling baik di dunia ini. Menjadi sosok yang teladan untuk saya contoh dan tiru. Menjadi seseorang yang darahnya mengalir dalam setiap nadi hidup saya. Bapak adalah segala-galanya untuk saya. Tidak perlu meminta maaf akan hal tersebut.

Tanggal 27 Mei 2011, hal yang dipasrahkan tersebut kembali kepada Allah. Inalillahi wainailahi roji’un. Titik pasrah kehidupan paling besar dalam hidup saya rasakan saat itu. Melihat sosok yang saya cintai sepenuh hati dan saya merasa bersalah ketika belum bisa memberikan apapun kepadanya telah berpulang selama-lamanya menuju rumah Allah. Dalam teriak tangis, saya seakan tidak percaya. Bahwa setelah ini tidak lagi ada rebutan remote untuk menonton sineteron dengan pertandingan bola ataupun balapan motor. Semua telah berakhir.

Saya tahu hal itu, dan hidup saya terus berjalan bergandengan dengan Mama. Kami percaya Allah mempunyai rencana yang baik untuk kehidupan kami selanjutnya. Ada kado istimewa untuk setiap hamba-Nya yang percaya akan keputusan yang dibuat oleh Allah. Saya percaya akan hal itu.

Setiap saya do’a permintaan saya hanya satu, dijauhkan dari sikap sombong dan dijauhkan dari rasa menyesal. Walau kadang mama saya masih suka kepikiran Bapak, tapi air mata yang tercurah seberapa banyakpun tidak akan bisa menggantikan untuk kehadiran Bapak saya kembali.

Saya juga pasrahkan jodoh terbaik untuk Mama, yang kelak siapapun dia, semoga bisa menemani dan menjadi cinta sampai dengan tutup usia di usianya yang senja. Semoga saja Allah mendengarkan setiap permintaan saya. Amin.

Gimana, pernah merasakan titik pasrah juga dalam hidup kalian?

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: