Tentang Merindumu Malam Ini

Matahari begitu menggoda untuk membangunkanku hari ini. Cahayanya masuk melalui celah-celah kecil antara pintu dan jendela rumah mungilku kali ini. Aku mencari seorang yang menemaniku selama hampir 24 tahun. Mama sudah bangun hari ini. Mama begitu semangat hari ini. Selamat pagi, Ma. Semoga kebaikan Allah selalu senang menyambangi Mama. Amin.

Suara lagu kesayangan di handphoneku berbunyi. Panggilan itu menandai bahwa ada panggilan untuk segera di jawab.

My sweety calling..

Aku memberikan nama dalam contact yang tersimpan di handphoneku. Selain nama manis itu, aku memberikan nama my smile. Sedikit norak memang buat kalian, tetapi manis buatku. Karena dia seseorang yang selalu manis dan membuat saya tersenyum hingga tertawa setiap harinya.

Dia menyapa dari seberang handphone. Suaranya sayup seperti seorang baru bangun tidur. Menyapa sepagi ini. Membangunkanku di pukul tujuh untuk menghindari keterlambatan di hari sabtu ini.

Sepanjang hari dia selalu menanyakan kabarku. Seperti orang yang mabuk kepayang karena rasa jatuh cinta yang dilesatkan dari panah Stupid Cupid. Hahaha. Kami terlampau tua untuk hal-hal konyol seperti itu.

Hei… tapi bukankah cinta itu mengalahkan logika dan juga rasa lain selain bahagia?

Bukankah juga jatuh cinta itu berjuta rasanya, seperti para pujangga atau puisi-puisi tentang cinta?

Iya. Tapi kami jatuh cinta untuk waktu yang lama. Kami saling melengkapi untuk waktu yang sudah bukan dalam tahap di mabuk kepayang.

Kami hanya ingin mengukir cerita. Mengukir kenangan disepanjang perjalanan kisah kami. Hanya itu saja.

Bahkan aku rindu untuk mendengar degub jantungnya. Aku merindu untuk menggodanya dengan degub jantungnya. Disetiap detaknya ada tanda kehidupannya. Dan berharap deguban itu lama untuk kehidupannya. Dalam do’a aku selalu memohon untuk diberikan kehidupan untuknya lebih lama dari takdir sebelumnya. Sehingga, lebih lama juga dia bisa merasakan dunia.

Aku juga rindu menaruh kepalaku tepat di atas pahanya. Bagaimana tangannya mengusap rambutku. Kemudian kami bercerita dalam riang. Bercerita tentang ambisi, mimpi, dan cerita harapan-harapan kami selanjutnya.

Dan rindu itu semakin membuncah malam ini. Hei tampan, sedang apa kamu disana?

Aku merindumu. Sangat merindumu. Ingin ku kecup dalam setiap tidurmu. Bangunlah dengan tanda kehidupan yang baik, dengan senyum termanismu. Karena kelak, mungkin aku orang yang pertama dan terakhir saat bangun dan menjelang tidurmu.

I miss you badly, Sweety.

Jakarta, 28 Desember 2013.
Penghujung tengah malam.

Advertisements

3 thoughts on “Tentang Merindumu Malam Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: