Rezeki Itu Titipan :)

image

Hallo. Apa kabar kalian? Saya sedang kurang enak badan niy. Telinga saya gatal luar biasa, jadi saya putuskan untuk ke dokter. Periksa dan konsultasi mengenai apa yang terjadi di kedua telinga saya ini.

Well, saya sendiri sebenernya paling takut sama yang namanya Rumah Sakit. Semenjak saya menunggu Alm. Bapak di Rumah Sakit, saya jadi takut dan semacam punya rasa trauma dengan yang namanya Rumah Sakit. Padahal, tidak semua rumah sakit itu seram. Tapi yang pasti seram harganya. =)) *dikeplak*

Jadi gini, akibat telinga saya yang gatalnya udah gak bisa ke tahan. Kemarin, dihari libur dalam rangka hari buruh saya melenggangkan kaki menuju salah satu rumah sakit untuk mendaftarkan diri dan bertemu dengan Dokter Spesialis THT. Saya pernah punya pengalaman dikecewakan *halagh* dengan dokter spesialis mata. Saya bayar biaya konsultasinya mahal, tapi dokternya judes. Hufed.

Setelah browsing, googling rumah sakit ini dengan rumah sakit Mayapada Tangerang, saya putuskan untuk lebih baik di rumah sakit Hermina saja. Selain dokternya sama, dekat dengan rumah juga. Finally, dokternya namanya Dr. Ong. 🙂

Tetapi, setelah masuk ke ruang pendaftaran. Dokternya tidak praktik. 😦 saya sedih. Tetapi kekasih saya malah senyum sambil nasihatin, dokter juga manusia. Hari libur ya mereka istirahat. =))

Jadi saya pulang. Tapi ya gitu, manyun mah teteup ada ya. =)) tetapi saya daftarkan buat besok, dan dapatlah saya urutan nomor 11. Alhamdulillahnya masih ada Dr. Ong.

Hari yang ditunggu datang juga. Sipirilii.. saya diantarkan oleh Abang Hafiz, kekasih yang menemani saya 6 tahun ini. Ah, love you, Bang. *dikepruk*

Setelah hampir 1,5 jam menunggu, karena memang pasiennya sedang rameramenya, si Abang sampai ketiduran. =)) tibalah giliran saya masuk ke ruangan spesialis THT itu.

“Nona apa yang dirasa?”

*meleleh* asli ini Dokter mengagumkan. Tidak seperti dokter yang mengecewakan saya. Fwuh.

“Telinga saya gatal, terus malah berdengung.”

“Sebelah mana?”

“Yang kanan, tapi kirinya juga iya. Gatal, Dok.”

“Saya cek dulu ya. Sus, tolong dicuci ya telinganya.”

Saya diam. Kekasih saya ketawa ngikik. Pengennya saya towel tuh anak. Kemudian, saya melihat ada semacam.jarum suntik. Pikirnya saya, disuntik lagi? Aduh. Saya itu udah trauma banget disuntik ditempat anehaneh, semacam gusi dan bibir. 😐

Ternyata dicuci itu rasanya enak. Tenang. Dan ya…lega. karena airnya kan hangat. Tapi, jangan sembarang mencuci dirumah lho ya. Salah suhu yang ada fatal.

Setelah dicuci, kedua telinga saya ini diolesi semacam salep. Untuk menghilangkan rasa gatalnya.

Akhirnya diketahui, bahwa sakit saya ini adalah semacam alergi atau iritasi. Kotoran yang menempel, atau karena sayanya salah membersihkan telinga saya.

Mungkin, dokter dan susternya akan gantian suka sama saya. Soalnya mereka selama menangani saya gak berhenti ketawa sik.

Dalam kepolosan atau mungkin kebodohannya saya, mengajukan pertanyaan yang enggak banget.

“Dokter, apakah telinga saya tumbuh jerawat atau gimana ya, gatal sekali.”

“Emang udah gak ada tempat lain selain di telinga? Apa di wajah kamu udah gak muat sampai-sampai tumbuh aja di dalam telinga kamu.”

Dokternya ketawa, suster juga, kekasih saya apalagi, jadinya saya ikutan ketawa. Hahahaha. Kadang, saya kocak juga.

Sampai akhirnya saya selesai di cuci, diolesi salep sama dokternya. Dan tibalah saatnya untuk menebus obat juga membayar.

Hal yang membuat saya dagdigdug adalah saat membayar. Berhubung tidak di cover oleh asuransi, jadi saya seperti mengeluarkan uang ekstra untuk membayarnya.

Tibalah saatnya. Tarrrraaaa. Sipirilllliiii..

Rp. 441.000,-

Empat ratus empat puluh satu ribu rupiah.

Kekasih saya ketawa. Saya lemas. Hahaha.

Akhirnya saya bayar dengan ikhlas. Dan saya menyadari, bahwasannya rejeki itu semua titipan. Allah memberikan rejeki tersebut melalui saya, yang kemudian saya titipkan kembali ke rumah sakit tersebut.

“Gakpapa, hampir 20 tahun gak ngeluarin uang buat ke dokter, Kan? Insha Allah, nanti ada rejekinya lagi. Allah kan gak tidur. Ada rejeki, pasti ada haknya orang lain.”

Iya. Kekasih menasihati saya yang bibirnya lagi manyunmanyun. Hahahaha.

Saya mengangguk saja. Oh well, satu pelajaran yang saya petik atas sakit ini.

Bahwasannya semua penyakit itu dari Allah. Itu juga hanya titipan, tinggal kita sebagai manusia menjaga titipan tersebut atau tidak. Menjaga dengan memberikan yang terbaik untuk mencarikan obatnya atau hanya menyepelekkannya. Semua itu pilihan dari manusianya itu sendiri. 🙂

Selamat hari libur, selamat beristirahat.

Dan ini foto terbaik yang saya miliki, ketika kekasih saya mengantuk karena menunggu saya dipanggil hampir 1,5 jam. =))

image

Salam,

Ndue.

Advertisements

6 thoughts on “Rezeki Itu Titipan :)

  1. ternyata berbagi kebahagiaan dengan tertawa bersama tidak mengurangi tagihan ya…. duh tega nian… 🙂

    kenapa penyakit telinga mahal…?
    karena deal-deal bisnis dengan omset besar harus melewati telinga…. hehehe
    smoga cepat sembuh nduk…

    • Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang menjadi bagian dari hidup kita, merupakan hal yang menyenangkan, Mbah. Terlebih gratis dan juga hadiah dari Allah. Alhamdulillah.

      Aaaaaaa. Terima kasih, Simbah. Saat ini sudah baikan, Mbah. Tinggal rutin minum obatnya saja. Suwun ya, Simbah. Semoga Simbah diberikan kesehatan selalu. Amin ya Rabb.

  2. Halo salam kenal ndue, kebetulan kedua telinga saya sering gatal walau sudah dibersihkan dengan cotton bud. sepertinya kegatalan berasal dari bagian paling dalam (tidak mungkin dijangkau dengan cotton bud) hal ini menganggu saya. sepertinya saya harus ke dokter THT dan siap-siap dengan biayanya deh. Haha 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: