Bimbingan Pertama : Ditolak

Yah, rasa dari penolakan jurnal yang diajukan ke dosen pembimbing itu rasanya kayak udah penuh dengan harapan diterima cintanya tetapi ternyata harapan itu palsu dan kemudian dihancurin, dilindes sama tank tentara, terus kesapu angin puing-puingnya dan semuanya hancur lebur. Iya seperti itulah rasanya. Intinya menyedihkan.

Padahal saya sudah menyiapkan amunisi untuk bertempur dengan dosen pembimbing saya. Guna menjelaskan tentang penelitian yang mau saya ambil, metode pengumpulan datanya seperti apa, ehlha dalah, baru judulnya saja saya sudah diragukan. 😦 ini kali kedua saya bertemu dengannya, dan kami masih saja berdebat tentang jurnal penelitian oleh orang-orang sebelumnya.

Yang menjadi bermakna adalah akhirnya saya merasa putus asa dan kedepresian. Saya mendengar cerita rekan-rekan lainnya mereka bahkan sudah bisa lanjut bab demi bab. Sedangkan saya? Masih berkutat dengan judul ataupun dengan jurnal  penelitian sebelumnya. Sampai akhirnya saya seperti ingin menyerah kemudian menangis saja. Tapi tidak saya lakukan itu, karena saya memilih untuk berusaha menikmati prosesnya. Lagi-lagi seperti itu jawaban hiburan saya.

Kemudian, saya mengabari Mama.

“Ma, ditolak lagi. Gimana yah seharusnya?”

“Gakpapa Nduk. Itu proses namanya. Kadang harus secapek itu.”

“Tapi anak-anak lain gak sesusah ini, Ma.. aku kayak udah mau nyerah gitu aja.”

“Justru karena diawalnya susah, nanti kamu akan terbiasa dengan kesusahan selanjutnya. Yang aneh itu, kalau belum apa-apa udah dimudahin. Itu yang tanda tanya besar.”

“Prosesnya gak udah-udahan, Ma.”

“Kamu beneran frustasi yah, Nduk? Jangan gitu dong. Banyak-banyak berdo’a gih sana. Jangan merasa capek dalam do’amu ya.”

“Iya. Insya Allah.”

Semacam itulah jawaban dari Mama yang menasihati anaknya yang sedang dilanda kegalauan. Ada benarnya memang, kalau dari awal saya sudah terlena dengan kemudahan yang diberikan, pasti saya akan dengan mudahnya meremehkan skripsi saya.

Well, saya berdo’a untuk tidak pernah merasa capek ataupun kesal dengan apa yang terjadi di bimbingan kedua nanti. Tak apa, semua itu proses. Karena pada akhirnya, semua yang saya jalani nantinya akan menghasilkan sebuah titik akhir. Dimana titik akhir itu hanya ada dua pilihan, mengulang di semester depan, atau lulus. Semoga saja saya bisa berhasil dengan baik. Amin.

Jadi, ini cerita bimbingan pertama saya. Semoga besok pagi saya mendapatkan kabar baik dari Dosen pembimbing saya. I’ll update later. *cheers*

 

Jakarta, 14 September 2014

00.05 WIB

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: