Curhatan Insomnia

IMG_20141020_012226
Hai, sebut saja saya akhir-akhir ini menjadi perempuan kalong. Bukan-bukan karena saya gegalauan terus gak bisa tidur, atau kemudian saya mengupdate semua social media saya karena kegalauan saya itu, tetapi saya benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan target hidup saya yang tidak berkesudahan. (ini semacam lebay)

Okay, manusia boleh bermimpi, kan? Kali ini sederhana saja mimpi saya. Saya hanya ingin sebelum akhir bulan Oktober ini skripsi saya selesai sampai Bab 3. Itu saja? Iya hanya itu saja. Tidak perlu muluk-muluk hanya itu. Dari awal minggu Oktober, sampai besok minggu ke-3 Oktober saya harus bolak-balik ke kampus untuk menemui dosen tercinta dan meminta bantuan Ibu dosen mengoreksi tentang penelitian saya ini. Walaupun beberapa kali harus ditolak, disemangatin dengan bahasa yang err, kurang gimana gitu ya ditelinga, tapi tak apalah semua itu demi saya supaya lekas selesai.

Alhasil, saya kemudian diperjalanan pulang kampus biasanya menangis. Menangis bukan karena kesal atau gimana, tetapi saya semakin hari-semakin merasa mudah lelah. Seperti ingin menyerah saja. Melihat rekan-rekan lain yang sudah sidang seminar proposal dengan bertemu dosen penelaah. Lha saya masih stuck di Bab yang itu-itu saja. 😦 setiap Senin atau Rabu saya harus ke kampus di sela-sela jam makan siang, ketika harus panas-panasan, kebut-kebutan, kejar-kejaran dengan si waktu yang kurang ajar bengisnya, menunggu setengah bahkan sampai satu jam untuk bertemu lima menit saja oleh Ibu dosen dan akhirnya disuruh pulang belajar lagi. Duh, sakitnya tuh disini. *nunjuk kepala yang mulai migrain.*

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menghadapi yang namanya skripsi, kira-kira 4 tahun lalu saya juga pernah yang namanya mengerjakan tugas akhir. Saat itu malah lebih parah. Saya masih aktif mengambil SKS penuh di kampus yang lama. Pontang-panting kuliah mengejar jam kuliah, mengejar dosen, rasanya gak karu-karuan saya mau mual saat itu. Sampai akhirnya saya merasa frustasi untuk menunda jadwal sidang karena saya benar-benar hopeless saya gak mengerti harus berbuat apa saat itu. Kemudian, datanglah 2 orang terpenting dalam hidup saya, yakni Putri sebagai sahabat yang membagi saya banyak softcopy untuk tugas akhir. Dan saya tinggal memilih yang mana yang mau digunakan. Dan pastilah orang kedua adalah kekasih saya si Abang tampan bernama Hafiz itu. Dia orang yang dengan semangatnya menyemangati saya supaya tidak menyerah dengan keadaan apapun. Dia bahkan menertawakan saya ketika saya menyatakan bahwa sudah tidak kuat lagi. Dia memang benar-benar so sweet tidak salah saya menyematkan panggilan sayang buatnya yaitu; sweety. *ditimpuk massa*

Oh well, saat ini saya benar-benar menikmati malam yang sejatinya malam. Tidak ada suara apa-apa selain deru angin dari pergerakan kipas ac yang ada di belakang saya. Ada Mama dan saudara saya satu-satunya yang terlelap dalam tidurnya. Kali ini, gantian saya menjaga mereka dalam tidurnya. Juga ada sweety di ujung sana yang terlelap dan terbangun dalam tidurnya karena mimpi buruknya. Don’t worry sweetheart, I’ll keep you even in the dark of whole your dream. Saat-saat seperti ini adalah saat yang menjadikan saya merasa intim dengan malam, kenangan, dan tentunya kerjaan yang harus saya kerjakan dengan menggunakan laptop yang sama sejak tahun 2009 lalu.

Laptop ini aneh. Kadang-kadang dia ngambek, sama halnya dengan beberapa hari lalu ketika saya dengan semangatnya mengetik bab 2 dan 3. Sudah 1 jam saya asyik mengetik di tempat yang terkenal dengan ayam itu. Sambil menikmati gratisan redeem dari Samsung, dan juga wifi yang, yah kadang-kadang menyakitkan. Mendadak laptop saya blue screen dan saya belum sempat menyimpan semua ketikan saya tadi. Alhasil, saya akhirnya mengumpat sejadi-jadinya. Semua kebun binatang keluar dengan derasnya dari mulut saya tanpa bisa saya rem. Saya mengadu sama Mama, yang akhirnya menyuruh saya untuk pulang saja, kemudian dalam diam dan kesal saya bisa tidur malam itu.

image

Paginya, Mama mengajak saya bicara untuk membeli laptop baru saja. Saya mau, saya kepingin banget malah, tetapi masalahnya kantongnya yang belum bisa membantu saya menggantikan acer kesayangan saya ini. Banyak kenangan yang saya lakukan berdua dengan laptop ini. Feeling so sad also guilty but should be taft. If I have money, I’ll buy new laptop. Insya Allah.

Jadi, sekian dulu cerita saya malam ini, cerita saya menjadi seorang insomnia untuk mengerjakan skripsi sambil juga menikmati setiap alunan lagu yang keluar dari si Acer ini. Kemudian, sambil juga saya menikmati sepoy-sepoy angin yang ada dibelakang saya, dan ketika saya rebahan, saya selalu mengucap syukur Alhamdulillah, begitu nikmatnya tidur disamping Mama. Mungkin, kalau tidak ada skripsi, saya tidak akan mensyukuri betapa waktu untuk tidur itu menjadi menyenangkan. Bukankah manusia itu harus merasakan susahnya seperti apa dulu baru kemudian bisa bersyukur, kan? Semoga saja kedepannya tidak, ya!

Jakarta, 20 Oktober 2014.

01.29 Pagi.

sign

Advertisements

7 thoughts on “Curhatan Insomnia

  1. I’ve been there. Sama2 lulus D3 terus lanjut S1 sampe harus pindah kampus segala untuk mempersingkat dan mempermudah skripsi dan segera sidang.

    puk2. Sabar ya Ndue.. 🙂

    • Amin ya Rabb, Makasih banyak yah Mak Cicha. Waaa maaf baru meng-app komentnya. Beberapa lama ini terkubut di sini blognya.

      hahahahaha.

      Mak, makasih pelukannya, Mak. Insya Allah punya laptop baru. Oke mulai sekarang sering update blognya. *halagh.

      Nanti aku mampir ke rumahmu ya, Mak :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: