Sebuah Proses

IMG_20140907_184317Sejak beberapa waktu yang lalu saya semakin mengidolakan kereta api listrik yang melayani transportasi sejabodetabek. Banyak hal yang membuat saya semakin terkagum-kagum dengan kereta api ini. Salah satunya adalah perubahan pelayanan yang jauh semakin baik.

Tak tahu kenapa, saya lelah luar biasa hari ini. Beberapa kali saya merasakan susahnya bertemu dengan dosen pembimbing skripsweet. Sudah saya tunggu sedari minggu pagi jam 7 dikampus tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya saya pulang, dosennya datang. 😐 saya akhirnya memutuskan untuk tidak lagi kembali ke kampus.

Hidup itu, kadang membutuhkan banyak proses. Sejatinya, kehidupan bukanlah sebuah tujuan akhir, tetapi proses bagaimana kita menuju ketujuan akhir itu sendiri. Sama halnya seperti bimbingan tugas akhir ini, ada proses yang harus saya jalani. Seperti susahnya bertemu dengan dosen pembimbing, atau saya harus janjian dengan beliau sewaktu jam kerja dan lari-larian ke kampus kemudian kantor lagi. Semacam seperti itu.

Tak apa, saya ingin menikmati segala proses yang ada. Sama halnya seperti saya menikmati kesendirian pagi ini. Duduk ditaman, tanpa ada satupun orang yang saya kenal. Atau ada anak-anak yang lewat kemudian bertanya kepada saya, dimana letak gedung A, B atau C. Saya menjawabnya sambil tersenyum, karena 1,5 tahun yang lalu saya sama seperti mereka. Sampai akhirnya saya bisa mengambil kuliah skripsi ini, semua juga butuh proses. Dan ini proses terakhir saya menjadi mahasiswa di Universitas yang saya mimpi-mimpikan sedari 4 tahun yang lalu.

Ketika saya naik kereta api pun, saya tidak melulu ingin lekas sampai ke tujuan saya. Adakalanya saya memilih berdiri, menyender di samping pintu yang saya bisa lihat keluar pemandangan dari jendela itu. Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, saya selalu suka melihat keluar. Karena dari perjalanan itu saya bisa merasakan, dan membayangkan bagaimana kehidupan orang-orang yang tinggal di daerah kumuh sekitaran rel kereta api..

Ah.. bukankah hidup itu harusnya disyukuri, bukan terus-terusan untuk disesali?

Sampai akhirnya saya membuat kesepakatan dengan proses itu sendiri. Yap, I’ve deal within. And I will enjoy every process in my life. Insya Allah. 🙂

Jakarta, 07 September 2014

23.32 WIB.

sign

Proposal Skripsi

Finally, tahapan akhir dari perkuliahan saya datang juga. Saya merasa sedih juga karena saya tidak memiliki jadwal pertemuan kuliah di sabtu minggu. Saya hanya akan masuk kuliah di e-learning hari Kamis dan Jum’at. Tak apa, semua memang ada masanya. Mungkin saja, ini satu dari masa dalam kehidupan saya untuk mengikhlaskan hal-hal yang menjadi kebiasaan akhirnya harus berakhir juga.

Senin kemarin, saya akhirnya berhasil menemui dosen pembimbing. Dosen tercantik yang pernah ada dalam kamus perkuliahan saya. Beliau bernama Ibu Muti’ah. Dosen yang mengajarkan mata kuliah perpajakan 1 & 2. Dan saya mendapatkan kelas Ibu cantik ini selama dua semester. Semacam jodoh saya dengannya. Biasanya setiap bertemu dengannya saya selalu menggodanya, dan Ibunya selalu saja sebal karena ulah saya. Dan ketika saya menerima surat tugas, tercetaklah nama saya yang akan dibimbing oleh Ibu Muti selama 6 bulan kedepan.

Pada saat pertemuan tersebut, saya di wanti-wanti untuk menyelesaikan skripsi saya dalam 3 bulan saja. Untuk kemudian bisa ikut dalam seminar proposal skripsi dan bulan Desember atau Januari bisa kemudian ikut siding akhir. Dan semoga saya lulus dengan predikat memuaskan. Karena, apabila saya gagal dalam target ini, maka saya seperti orang kaya yang memperpanjang krs skripsi dan membayar sks yang mahalnya segambreng-gambreng itu. Daripada saya membayar untuk hal yang sia-sia seperti itu ada baiknya, uang tersebut saya investasikan atau saya belikan saja aksesoris taman rumah saya. 😐 ini kenapa saya mulai perhitungan, ya? 😀

Pertemuan pertama berjalan dengan errr, bisa dibilang sangat tidak mulus. Tak apa, saya diminta mencari jurnal penelitian minimal 5 jurnal. 2 internasional, dan selebihnya nasional saja. Akan lebih bagus apabila saya menemukan banyak jurnal penelitian. Apabila ternyata saya tidak berhasil menemukan jurnal tersebut, dengan sangat menyesal, proposal saya dibatalkan dan saya harus memulai dengan penelitian yang baru. 😦 makanya, mala mini saya ngelembur untuk mencari jurnal penelitiannya. Walaupun saya bingung bahasa akademisnya siy, cuma ya dicoba saja. Semoga jurnal saya mendapatkan hasil yang baik dipertemuan selanjutnya.

 Well, akibat tugas pertama saya itu, akhirnya saya kemarin galau. Saya lari-larian untuk mengejar waktu karena pertemuannya ada di jam kerja. Dengan sangat berterima kasih saya ucapkan kepada Bapak atasan saya yang memberikan izin dan tenggang waktu setengah jam terlambat untuk kembali ke kantor. Ditengah lari-larian itu, akhirnya saya tersungkur. Kaki saya keceklik alias keseleo, keseimbangan tubuh saya goyah, sukseslah saya jatuh tersungkur dengan pundak dan pinggul sebelah kiri menubruk pon blok dari parkiran di kampus.

Dari awal saja, saya sudah harus merasakan sakit karena galau mengenai judul penelitian saya, apalagi tahap selanjutnya, ya? Ini sudah bulan September, targetnya apabila memungkinkan saya mau bertemu dengan Ibu Muti setiap sabtu dan minggu. Walaupun jadwal pertemuan dengannya adalah hari minggu pagi, tetapi tetap semangat kakaks!

Saya semangat dan begitu menyambut datangnya tugas akhir ini. Tugas yang benar-benar menjadi akhir dari perjalanan perkuliahan saya selama 2 tahun ini. Mohon do’anya yah teman-teman, semoga saya bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Amin..

Thanks a lot, untuk Mercu Caur yang selalu membantu saya baik dari segi perhatian maupun jurnal. Hahahha. I really don’t know how’s my life to be.. without you all. *halagh 😐
Jakarta, 04 September 2014

00.15 WIB

sign

Kehidupan Yang Hakiki

Kalian pernah atau selalu merasa kehidupan ini membingungkan tidak, ya? Saya akhir ini seperti orang linglung yang seperti kehilangan apa makna kehidupan itu sendiri. Rasanya ya, tingkat frustasi dan kegalauan ini meningkat beberapa persen dari beberapa waktu yang lalu. Sudah hampir sebulan berlalu, tetapi saya masih saja merasakan bahwa kehidupan ini membingungkan.

 

Saya memiliki dua kehidupan, atau saya sendiri yang merasa berlebihan akan hal ini. Mungkin saya hanya butuh beberapa teman mengobrol untuk menceritakan apa yang saya rasa. Teman yang pada masanya pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan selama ini. Teman yang juga mengalami kehidupan yang sama dengan apa yang saya rasakan dari saya masih usia remaja sampai dengan saat ini. Mungkin saja.

 

Saya pernah tinggal di Jakarta dan juga Klaten. Sewaktu kecil saya masih di Klaten sampai dengan usia saya 3 tahun, setelah itu saya dipindah ke Jakarta sampai dengan usia saya 8 tahun, kemudian saya dipindah lagi ke Klaten bersama Simbok dan Pak Tuwo sampai dengan usia saya 13 tahun, kemudian saya dipindah lagi ke Jakarta sampai dengan usia saat ini. Saya sudah tua.

 

Saya pernah mudik tahun 2010, saat itu entah kenapa saya masih merasakan ketenangan lahir dan bathin setiap saya mudik ke Klaten. Saya selalu mudik sendirian, Mama sama Bapak tidak menemani saya. Selama saya mudik disana, kebahagiaan yang saya peroleh. Ketenangan yang saya rasakan. Dan kesejukan yang saya nikmati disetiap waktu menganggur walau hanya beberapa hari saja. Rasanya mudik 2-3 hari itu seperti mengingatkan pada saat-saat dimana saya pernah hidup disana. Setelah itu saya akan lebih menyenangkan kembali ke Jakarta.

 

Baru pada tahun-tahun ini saya merasakan mudik tidak lagi menyenangkan. Setelah perasaan yang selalu membuat saya resah. Adanya pilihan juga membuat saya benar-benar tidak bisa merasakan kenikmatan itu lagi. Saya seperti dihadapkan pilihan-pilihan yang harus saya ambil. Dimana pemikiran realitis berubah menjadi melankolis. Dimana kehidupan modern saya berubah menjadi kehidupan desa yang menerima bagaimana rezeki itu dibagikan oleh Allah seadanya, semampunya. Bagaimana saya harus menerima kalau-kalau saya tidak merantau ke kota menyenangkan sekaligus menyeramkan ini. Kota itu bernama Jakarta. 😐

 

“Kamu mau pilih kehidupan seperti apa? Realistis atau melankolismu? Hidup di kota apa hidup di desa? Berfikirlah dengan matang nduk. Minta petunjung Gusti ingkang kuoso.”

 

Seperti itu saja pembicaraan saya dengan Simbok dan Mama. Semacam tidak ada pembicaraan lain antara saya dengan mereka. Belum lagi ada pembicaraan antara adik-adik Mama yang lainnya. Arwhwhwhhwhw. Rasanya saya mau teriak. Semacam masa-masa tidak tertekan itu sudah tidak ada lagi. Saya benar-benar ketakutan setiap mengingat saat-saat menyedihkan itu. Saat dimana saya harus dihadapkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyedihkan itu. 😦

 

Saya paham betul apa yang dimaksudkan dan apa yang ditakutkan oleh kedua perempuan hebat itu. Karena bagaimanapun mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk saya. Tapi kalau saya bisa memilih saya maunya yang terbaik dikasihkan oleh Allah. Saya maunya semua yang terbaik sesuai dengan do’a yang saya kirimkan ke langit untuk bisa disampaikan oleh Allah.

 

Saudara saya berbicara, beberapa konsekuensi tentang arti kehidupan itu sendiri, harus ada yang diperjuangkan dan mengalah. Saya mungkin masih egois untuk memilih terbaik dari pilihan-pilihan itu sendiri. Tetapi, beberapa orang pasti harus mengorbankan sesuatu untuk kemudian mendapatkan sesuatu yang baru.

 

Sampai akhirnya teman baik saya, Nyonyah Anne menanyakan kabar saya di malam minggu kemarin. Menanyakan bagaimana perasaan saya, dan kenapa saya berubah menjadi murung seakan menyalahkan socmed untuk kemudian saya harus berhenti sejenak dari kehidupan itu. Bukannya apa, saya hanya sedang ingin meresapi apa kehidupan yang hakiki itu. Bagaimana saya mendapatkan kehidupan seperti itu. Dan apakah rasanya memiliki kehidupan yang hakiki itu.

 

Saya menjawab dengan santai atas pertanyaan teman saya tersebut, bahwa saya saat ini sedang bergosipan dengan Ibu-Ibu tetangga disebelah rumah saya. Mereka sedang membicarakan hal-hal yang membuat saya tertawa karena logat mereka. Bahasan tentang tetangga saya lainnya, tentang apa yang sedang ramai dibicarakan, tentang film Mahabarata, dan tentang hal-hal lainnya yang bisa dibicarakan oleh kami. Saya merasakan bahwa kenikmatan seperti ini jauh lebih indah dibandingkan saya harus buang-buang uang di Mall untuk sekedar nonton, ngopi, atau belanja. Hal lainnya yang saya lakukan ketika malam datang adalah, saya youtubean dengan satu lagu saja. Lagu itu berjudul selalu rindu. Lagu itu menjadi kesukaan saya hampir lebih dari 1 minggu ini. Saya seperti menyatu kembali dengan aliran musik dangdut ini.

Iya saya memang merasakan bahwa saya bukan seperti saya yang dahulu lagi. Saya merasakan dunia saya seketika berubah, bukan seperti sinetron jungkir balik dunia Sissy, tapi menjadi jungkir balik dunia Ndue. 😐 intinya saya benar-benar menikmati dunia saya saat ini.

 

Bangun tidur, bekerja, beribadah, pulang, ngumpul dengan tetangga atau Komunitas Klaten Perantauan Saling Sapa (KKPSS) yang juga mengontrak disamping tempat tinggal saya, dan kemudian tidur. Atau sebelum tidur saya youtubean, bisa juga saya membaca novel dan blog. Sudah seperti itu saja. Seperti menikmati masa-masa waktu yang berkualitas dirumah. Menghemat, tanpa mengeluarkan biaya apa-apa, kecuali dosa yang terus saya timbun karena pasti itu konsekuen dari kegiatan gosipan dengan tetangga. Hahaha.

 

Kalau ditanya. Do you enjoy your life right now, Ndue? Yes, I do. People need to change. So do I. Mungkin sementara ini memang saya hanya ingin menikmati kehidupan seperti ini. Entahlah, apakah ini kebahagiaan yang hakiki atau hanya sesaat. Yang pasti, manusia mempunyai titik jenuh, titik timbal balik untuk menjadi lebih baik. Semoga saja saya menjadi salah satu orang diantaranya. Amin.

 

Jakarta, 1 September 2014.

00.12 WIB.

sign

Segala Yang Terbaik

Akhirnya saya harus mengalah kepada kejenuhan yang singgah menyambangi saya saat ini. Entahlah, saya hanya merasa saya akhirnya harus mengalah pada kenyataan yang ada, yang menyatakan bahwa angan dan mimpi itu akhirnya harus kalah. Kalah bukan berarti buruk. Kalah bisa juga merupakan sebuah kemenangan yang belum juga hadir dalam kehidupan saya saat ini. 🙂

Saya memutuskan untuk berhenti sejenak, beristirahat sejenak, mencerna untuk apa keadaan ini terjadi. Kenapa harus terjadi, dan mau jadi seperti apa kemudian. Saya sedang mengeluh, ya? bukan, bukan karena hal itu. Bukan juga seperti itu, saya hanya ingin menceritakan tentang apa yang sedang saya rasakan saat ini. Maafkan kalau kesannya saya sedikit curhat.

Saat ini benar-benar dalam tahap kepasrahan untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Bulan ini saya sudah harus dikejar untuk menyelesaikan pekerjaan yang bernama proposal untuk pengajuan skripsi saya. Kemungkinan, proposal tersebut bisa saja ditolak pembimbing saja. Yang artinya, saya harus mengerjakan ulang dari perumusan masalah sampai dengan terjadi skripsi yang utuh. Saya memiliki target bulan ini harus selesai untuk proposal pengajuan skripsi tersebut. Dimana saya sudah ketinggalan jauh dengan menyia-nyiakan waktu yang ada kemarin. Sampai akhirnya teman-teman seperjuangan sudah dalam tahap perapihan pekerjaannya, dan saya masih membaca semalam pengertian tentang metode penelitian dan cara pengolahan datanya.

Saya depresi berat. Bagaimana tidak? Melihat hasil ujian semester, dan indeks prestasi saya menurut drastis. Target saya bisa mendapatkan nilai sempurna pupus sudah. Ketika saya sudah malas untuk belajar. Ketika saya sudah mulai percaya bahwa saya bisa mengerjakan. Dan akhirnya 2 jam saya diruang ujian hanya melongo merutuki sikap konyol saya itu. Diganjarlah saya dengan nilai menyedihkan oleh Guru Besar. Tak apa, saya memang konyol. Dan saya akan belajar dari kesalahan itu.

Dari nilai, ditambah proposal, ditambah juga kerjaan yang minggu depan harus diadakan pertemuan dan penyusunan laporan keuangan dari pekerjaan yang harus juga diselesaikan. Bukankah begitu seharusnya pekerjaan saya sebagai buruh? Iya. Tapi bener deh semuanya terasa kacau.

Kemudian, ada pula masalah tentang hubungan keluarga, dengan seseorang yang menjadi angan saya dikemudian hari. Dengan keikhlasan dan kepasrahan yang ada saya harus jelaskan kepada orang tua saya bahwa masih dalam tahap usaha, tapi ditolaknya. Bagaimanapun juga keputusan dari orang tua adalah mutlak restu Allah. Apa saya ingin mendustakan Allah dengan menyakiti hati kedua orang tua saya?

Teguran demi teguran datang silih berganti. Liburan tak lagi menjadi menyenangkan ketika keadaan membebankan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kepastian hubungan sepasang kekasih dikemudian hari. Sampai saya benar-benar penat mendengarnya, benar-benar muak untuk menjawabnya. Dan sampai akhirnya saya benar-benar ikhlas menerima keadaan dan melepaskannya untuk kehidupan selanjutnya.

Mungkin, ini belum waktunya. Mungkin, ini belum jawabannya. Tapi, pada akhirnya harus berpisah itu sudah menjadi takdir atau mungkin jalan cerita dari kehidupan saya sendiri. Saya masih tidak tahu apa rencana Allah. Saya hanya menjalaninya saja dari jalan cerita ini. Karena saya hanyalah seorang pemain dalam cerita ini. Saya punya peranan yang Allah berikan kepada saya.

Setiap malam saya hampir gila memikirkan lantas, kenapa harus seperti ini? Apa iya tidak ada jalan pilihan lain? Semua buntu. Seperti halnya sudah tahu tidak bisa disatukan tapi tetap berusaha menyatu. Dan akhirnya air dan minyak tidak akan pernah bersatu dalam larutan air. Semua ada perbedaannya. Semua akan berpisah. Air dibawah, minyak diatas. Seperti itu juga saya dengannya. Masih atau belum bisa bersatu.

Keputusan ini akhirnya mutlak menjadi kesepakatan berdua. Dan saya memutuskan untuk menyendiri, membenahi setiap yang ada di diri saya. Baik pikiran yang sombong, tercela, maupun jarak yang sudah jauh dari Allah. Saya rindu untuk bercerita berdua dengannya dengan keadaan sepi dan larut. Karena benar sesungguhnya setiap yang ada di dunia akan kembali padaNya.

Sampai saya benar-benar pasrahkan segala kebaikan untuk diri ini hanya kepada Allah. Segala kehidupan, kematian, jodoh, dan rezeki semua menjadi keputusan Allah. Semoga Allah menjabah setiap do’a saya. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada saya. Amin.

Terima kasih untuk siapapun juga yang sudah berbaik hati memberikan do’a dan semangat yang tak putus sampai dengan saat ini. Saya tidak bisa berbicara apa-apa selain terima kasih. Thanks a lot. 🙂

Jakarta, 13 Agustus 2014

11.22 AM

Bunga Kenanga dan Tulip

image

Bunga ini menjadi kesukaan saya sejak sekolah SMP di desa. Nama bunga yang semula asing menjadi menyenangkan untuk kemudian saya kenang.

Namanya kenanga. Aromanya menyenangkan hati dan pikiran.

Sewaktu saya SMP, ada kegiatan pramuka setiap hari jum’at sore. Acara yang digelar pada jam 3 sore dan berakhir paling lama pada jam setengah 6 sore. Waktu awal pembagian, saya memiliki rekan-rekan team yang katakanlah sangat cupu. Rekan-rekan team yang keren sudah diambil teman saya. Akhirnya, saya menerima rekan-rekan saya tersebut dengan ikhlas pastinya.

Pembagian kelompok untuk perempuan berdasarkan nama bunga. Bunga yang terpilih nantinya akan digunakan sebagai bendera di tongkat merah putih sang ketua, dan identitas di sebelah lengan kiri dari seragam pramuka kami.

Terpilihnya sang ketua untuk kelompok kami. Yaitu; saya sendiri. Dan terpilihlah juga nama bunga yang akan menemani saya selama seragam pramuka masih menjadi seragam yang wajib dikenakan sampai dengan 3 tahun kedepan. Bunga itu; Tulip.

Cantik, bukan? Saya sendiri sudah kebingungan untuk memilih bunga apa. Karena semua bunga sudah diambil kelompok lain. Ada Anggrek, Mawar, Melati, Flamboyan, Kenanga, dan nama bunga lain yang saya tidak ingat namanya. Tulip sendiri diusulkan oleh kakak pembina yang saya lupa namanya. Yang pasti, dia sudah memberikan sebuah nama bunga baru yang menjadi simbol saya setidaknya sampai saya naik kekelas 2. Dan berubah menjadi kakak pembina.

Menjadi ketua, berarti juga harus siap menjadi yang bertanggung jawab atas setiap yang ada di anggota Tulip. Mulai dari mencari bendera Tulip, sampai dengan mencari lambang bunga (bet) untuk kemudian saya jahit di sebelah lengan kiri seragam pramuka. Bunga Tulip tidak banyak toko yang tahu. Saya muter-muter bersama Simbok dan Kakek untuk mencari keperluan itu. Rasanya, dulu saya sangat senang karena walau Bapak dan Mama jauh di Jakarta masih ada orang tua penggantia yaitu Simbok dan Kakek yang mencoba menjadi muda kembali, karena harus mengurus keperluan saya sekolah. Hahahaha.

Sampai akhirnya semua diperoleh. Bahagialah saya. Kemudian, saya menjadi pecinta bunga Tulip. Bunga berwarna kuning dengan simbol menguncup di kelopaknya.

Time moving so fast.. akhirnya masa-masa pramuka menyenangkan itu harus berakhir. Dan saya kini menjadi kakak pembina. Menyenangkan. Tetapi saya rindu, karena ternyata tidak semua anggota pramuka kelas satu menjadi kakak pembina. Hanya sebagian yang mau saja.

Akhirnya, pada saat saya kelas 3 SMP, saya dan rekan pembina lainnya didapuk menjadi anggota lomba pramuka yang akan berkemah di Lapangan Barepan Cawas selama 3 hari 2 malam. Whoaaaaah. Jelas saya senang sekali. Bisa bermalam bersama rekan-rekan lainnya walaupun Simbok suka marah-marah kalau saya pulang berkemah pasti deh rambut saya ini ketularan kutu yang beranak-pinak. Ya, mau bagaimana lagi. Kutu-kutu itu akan terbang ke setiap anggota kemah yang tidur bersampingan. Kalau sudah begitu, saya harus membeli shampoo ekstra untuk keramas setiap saya mandi. Dan kutu-kutu itu akan mati dengan segera.

Untuk berkemah selama 3 hari 2 malam, akan ada penggabungan beberapa kelas 3 yang aktif pramuka menjadi dua anggota grup perempuan. Kemudian, dipilih kembali ketua dan wakil ketuanya. Saya beruntung terpilih menjadi wakil ketua dari kelompok 1. Prestasi yang menyenangkan walau saya tidak terpilih sebagai ketuanya. Tak apa, hasil kinerja yang bagus akan membuahkan hasil. Karena menjadi yang pertama bukanlah berarti selalu yang menjadi utama.

Kelompok kali ini berganti. Dari identitas bunga Tulip, menjadi bunga baru yang disepakati dan kemudian di daftarkan ke ketua panitia perkemahan tersebut. Kelompok kami punya identitas baru. Bunga Kenanga. Bunga yang masih asing menurut saya, tapi kemudian menjadi teman sejati saya.

Semua bendera dan identitas di lengan kiri saya berganti. Saya menjadi sangat bahagia karena beruntung mendapatkan dua identitas bunga selama saya sekolah di SMP. Setidaknya sampai saya lulus sekolah. 😉

Waktu kemah datang juga. Hari pertama berjalan dengan sangat melelahkan. Harus berkumpul kesana-kemari untuk mengikuti setiap kegiatan yang ada. Akhirnya ketua kami sakit drop. Jadilah tugas selanjutnya saya yang menggantikan sampai semuanya selesai. Saya dikenal sebagai ketua yang galak, sangat galak. Tetapi, semua itu demi membangun karakter teman-teman saya yang lain. Ikut acara seperti ini itu menyenangkan. Pasti orang-orang yang pernah berorganisasi dari kegiatan sekolah apapun menjadi lebih terampil dibandingkan orang yang tidak pernah ikut.

Dalam 2 hari bertugas menjadi ketua kelompok kenanga menjadi hal yang menyenangkan buat saya. Karena, dari situ saya belajar bagaimana menjadi orang yang harus bijaksana dalam mengambil keputusan-keputusan. Sampai akhirnya malam terakhir di perkemahan, saya mendapati cerita bahwa pada perpisahan nanti akan ada pengumuman siapa yang menjadi pemenang baik untuk kelompok pria maupun wanita. Saya diam mendengar cerita beberapa rekan saya. Karena juga, selama perkemahan berlangsung kelompok kami tidak memberikan sesuatu yang wah. Baik dalam pertunjukan malam api unggun, malam aksi, panggung drama, atau apapun itu. Yang bisa saya andalkan adalah team saya yang cekatan dan menjadi team terkompak yang pernah saya pimpin.

Hari perpisahan pada akhirnya menyapa juga. Rasanya sedih sekali karena kita semua berpisah. Benar dugaan Simbok, kepala saya rasanya gatal luar biasa dan minta digaruk. Kutu-kutu sialan itu sudah merasuki rambut saya. Sialan! Hahahaha. Tapi saya senang, karena akan saya buktikan seberapa lama hewan itu akan bertahan di rambut saya ini.

Pembina pramuka sudah memasuki podium. Saya masih memimpin posisi ketua. Dan akhirnya diumumkan pemenangnya. Betapa terkejutnya kami bahwa salah satu dari dua kelompok pria mendapatkan juara 2 untuk perkemahan ini. Dan kami, begitu nama sekolah kami disebut untuk team perempuan akhirnya bisa mendapatkan juara 3. Dan betapa girangnya ketika nomor tenda yang disebut adalah tenda dari kenanga. Its a honour for us. Thanks to Allah. Saya akhirnya menerima trophy dari hasil berkemah ini. Saya serahkan ke teman-teman saya untuk disentuh dan dijunjung ke langit bersama-sama. What a beautifull day..

Dari saat itu, saya menjadi suka bunga kenanga. Bunga yang mudah ditemui dimana saja. Bahkan, bunga ini menjadi pelengkap dari bunga mawar untuk menyekar ke mereka yang sudah meninggalkan dunia ini.

Walau pada akhirnya sewaktu di sekolah saat penyerahan trophy dari kami ke kepala sekolah diwakilkan oleh ketua yang absen dalam memimpin, bukan saya. Dari situ saya belajar satu hal. Bahwa menjadi wakil bisa terlihat antara ada dan tiada. Saya mewajari bahwa ada slogan tersebut disematkan kepada Bapak Wakil Presiden kita Pak Boediono. Tak apa, karena apapun yang dihasilkan oleh sang wakil bukan melulu dilihat dari pencitraan publik. Tapi, karena hasil yang bisa kita kerjakan adalah tanggung jawab dari kepercayaan tugas yang di emban.

Dan begitulah saya menceritakan bunga-bunga yang menjadi kehidupan saya. Dan pengalaman menyenangkan dalam hidup saya. Semuanya berkesinambungan. Dan semuanya berhubungan. 🙂

Kalian suka bunga apa?

Tirtomarto, Klaten
03 agustus – 05 agustus 2014.
Akhirnya tulisan ini menjadi tulisan yang tidak bisa saya selesaikan dalam hitungan jam saja.
Saya merasa menjadi anak muda kembali ketika saya menuliskan pengalaman ini.
Betapa menyenangkannya menjadi pramuka. Dan anggota kemah. Seandainya saja, sekolah-sekolah yang ada di Ibu Kota menerapkan hal demikian, pasti sikap ketidakpekaan atau sikap cuek masing-masing individu akan hancur. Ah seandainya saja…
Tapi, akan ada resiko yang diambil. Yaitu, menularnya kutu-kutu. :))
Demikian tulisan saya. Cukup sekian saja.
Dan selamat malam.

Menikmati Kehidupan

Jelas kehidupan seseorang pasti berbeda dengan orang lainnya. Begitu juga saya, anda, atau kalian semua.

Beberapa hari hidup di Jawa seperti memeliki kehidupan lainnya. Tak ada mall, bioskop, diskotik, tempat mengopi, bahkan signal saja susah. Menjadikan saya seperti seorang yang lain dengan jiwa yang lain pula.

Kepala saya akhirnya penat. Setelah tidak melakukan apa-apa, dan tidak menghasilkan apa-apa. Sampai akhirnya saya merutuk sendiri. Berbicara kepada hati saya sendiri.

“Saya ini maunya seperti apa, dan maunya bagaimana kehidupan ini. Kenapa tidak pernah ada puasnya. Maunya begini, sudah. Maunya begitu, sudah. Kenapa masih saja kurang puas?”

Sampai akhirnya saya menjadi sumpah serapah atas ketidakberdayaan saya disini. Saya menjadi manusia pemalas, tidak menerima kondisi atau keadaan yang terjadi.

Dan kali pertama saya dimarahi sama Mama karena sepanjang hari pekerjaan saya selain menemaninya kemana-mana adalah hanya membaca novel dan menuliskan catatan kehidupan dalam sebuah note yang kemudian saya posting menjadi tulisan di blog.

Pada akhirnya, Mama mengalah dengan keaadaan saya. Dia biarkan saya menyendiri dan bahkan dia tahu bahwa anak perempuannya ini sedang gelisah dan memikirkan hal-hal tertentu.

Sampailah tadi pagi, sewaktu saya terbangung jam 8 pagi. Saya disambut dengan senyum terindah dari Mama dan Simbok. Dua perempuan yang menjadi kehidupan saya. Menjadi teladan dalam kehidupan saya. Sambil berbincang dengan santai keluarlah omongan yang menohok hati saya.

“Kamu kenapa? Kamu merasa belum juga waktunya untuk menikah? Kamu merasa perempuan tua yang tak juga pasti kapan pernikahanmu terjadi?”

Iya. Akhirnya saya mencurahkan dan menuliskan tentang perasaan yang membuat saya uring-uringan beberapa waktu ini. Pertanyaan itu langsung dari Simbok. Dan Mama menjawabnya dengan senyuman sambil dia menggoreng lauk untuk sarapan pagi ini.

“Tidak apa-apa nduk. Kamu seperti ini saja Simbok dan Pak Tuwo kamu sudah bangga dan bersyukur punya cucu seperti kamu.”

Kemudian saya mulai terharu. Membisu. Dan menangis.

“Sedari kemarin kamu menikmati hidup dengan caramu sendiri. Simbok sama Mama tahu gimana kamu. Sedari kemarin tidak melulu melihat handphone, membawa buku kemana-mana. Bahkan ke dapur, kandang kambing pun kamu bawa. Kamu menikmati semuanya. Tidak ada rengekan tentang hartabenda. Tidak ada iri atas pernikahan-pernikahan yang kamu datangi. Dan pastinya nduk, kamu menjaga kehormatan keluarga dengan sampai dengan seusia ini kamu bisa menjaga diri kamu sendiri.”

Mantep. Sangat mantep omongan Simbok. Sampai saya tidak sadar mama saya diam seribu bahasa.

“Tak apa. Suatu saat kalau sudah waktunya. Kamu akan menikah. Akan ada pria yang beruntung mendapatkan kamu. Ingat, orang yang baik akan mendapatkan suami yang baik. Berbuat baiklah terus. Jangan menyerah.”

Saya mengangguk.

“Lagipula, kamu itu masih perlu belajar banyak. Tak apa menikah beberapa tahun kemudian. Karena salah satu yang ditanya ketika meninggal nanti, adalah ilmu. Mama juga berharap tidak ada lagi pikiran yang menyusahkan kamu. Tidak ada keluarga yang memaksamu menikah terburu-buru.”

Iya. Saya langsung mengusap air mata di wajah saya. Mungkin, ini yang dinamakan pembicaraan sesama perempuan dewasa. Oh ya. Saya lupa saya bahkan masih merasa belajar menjadi dewasa.

“Nikmati hidup dan kehidupanmu dulu. Menikah bukan hanya sesaat. Itu hubungan jangka panjang. Sampai maut memisahkan. Menikah menggabungkan dua keluarga, dua adat, dua pemikiran, dan dua hati. Kalau belum siap, belajarlah.”

Saya menyetujui ucapan Mama. Kemudian sampai akhirnya ada pembicaraan lainnya yang menutup obrolan kali ini.

“Ingat. Semakin kamu belajar, menuntut ilmu semakin banyak pertimbangan yang akan diambil. Dan itu tidak akan ada habisnya. Terus berikhtiar, berdo’a, dan memohon saja untuk waktu yang bahagia untukmu dan suamimu nanti. Yang penting pacarnya udah ada. Tinggal saling percaya saja.”

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Saya memiliki keluarga yang benar-benar mendukung apapun kemauan saya. Masih banyak orang-orang yang lebih usianya dibandingkan saya. Tetapi, kalau disini tekanannya menjadi lebih berat lagi. Entahlah mungkin disini usia belasan menjadi sebuah ukuran untuk menikah. Tetapi mereka mungkin saja luput bahwa menikah bukan hanya pendamping saat tidur bersama, tetapi pendamping susah-senang sampai usia senja.

Saya kemudian sarapan, mandi, dan berjalan sebentar menuju depan jalan rumah saya untuk duduk disana beberapa saat. Sambil saya menuliskan postingan ini. Kemudian saya melihat sebuah bangunan berdiri dengan kokohnya yang sudah ditinggalkan penghuninya. Ketakutan selama ini akhirnya terjadi. Pemikiran atas ketakutan-ketakutan itu menjadi keresahan dalam hati. Sampai kemudian ketakutan menjadi nyata semua keresahan itu mati.

Bangunan sekolah ini ditutup karena tidak lagi ada siswanya. Bak di sinetron tetapi semua ini nyata adanya. Bangunan bersejarah dalam beberapa kehidupan siswanya termasuk saya. Setelah ini, saya akan buatkan postingan sendiri.

Saya duduk di bangunan ini, menikmati pemandangan didepan saya. Panorama dan fatamorgana menjadi satu dalam pandangan saya. Semua bermain dalam imajinasi saya. Seperti kekasih saya selalu mengatakan bahwa imajinasi tidak ada batasnya. Sayup-sayup terdengar suara langgem (lagu) campur sari dari dukuh sebelah. Lagu kesukaan saya. Caping gunung. Lagunya menenangkan hati saya. Kemudian saya menutup mata, semua indra ditubuh saya merasakan nikmat hidup yang sebenarnya. Sampai saya merinding dibuatnya.

Telinga, mata, kulit, suara, pikiran menyeru menjadi satu. Saya menikmati kehidupan disini. Kehidupan yang saya idam-idamkan dari beberapa bulan lalu tetapi saya hancurkan dengan perasaan yang tidak seharusnya ada ini. Saya menyesal, baru pada hari-hari akhir saya merasakan kehidupan yang menyenangkan.

Saya menikmati kehidupan dengan begini caranya. Begini adanya. Seperti ini rasanya. Setidaknya, dalam pejaman mata  saya menghempaskan pikiran saya jauh melayang entah sampai seberapa jauhnya. Saya berdo’a setiap harapan saya bisa dikabulkan oleh Allah. Saya berdo’a setiap rencana saya bisa menjadi nyata oleh Allah

Sampai suatu saat saya akan tertawa membaca tulisan ini. Karena Insya Allah, akan ada waktu dimana saya akan menikah, dan tulisan ini menjadi titik balik saya pernah ada dalam tahap merutuk hidup hanya karena saya resah. Semoga saja. 🙂

Tirtomarto, Klaten.
05 Agustus 2014
10.00 Wib.

Berbeda Dimensi

Kemarin saya berlebaran ke rumah adik dari bapak. Anak ketiga dari keluarga bapak, yang juga adik pria satu-satunya yang ada di keluarga bapak. Jadi, dikeluarga bapak hanya ada 2 pria yang menjadi penggenap untuk kehidupan kakek dan nenek dari keluarga bapak.

Saya selalu kepengen nangis kalau melihat paklik. Entahlah, mungkin saya yang menjadi cengeng atau perasa. Mungkin, bagi kalian yang pernah ditinggal orang tua untuk berpindah dimensi dan melihat seseorang serupa tapi tak sama akan merasakan canggung, dan gejolak perasaan yang bisa saja membuat mata menjadi panas, berair, kemudian menangis.

Paklik ini sama persis dengan Alm. Bapak. Dari suaranya, dari ketawanya, dari wajahnya, gaya bahasanya, atau nada bicaranya. Semuanya sama. Saya sendiri kadang melihatnya seperti bapak saya yang berada didepan mata ini. Tapi, jelas beda. Dia bukan bapak saya, dan dia punya kehidupan lain, termasuk keluarganya berbeda dengan saya.

Dia hanya sedarah. Dia hanya mirip. Tetapi dia bukan bapak saya. Dia bukan orang yang membesarkan saya dengan cinta dan kasih sayang tulus selama hampir 20 tahun saya hidup di dunia ini. Dia tidak boleh saya peluk atau saya cintai seperti bapak saya.

Yang lebih menyakitkan lagi, ketika pikiran paklik menerawang jauh entah kembali ke beberapa puluh tahun silam. Ingatan-ingatannya menghidupkan imajinasi saya untuk hadir dalam setiap cerita yang dia bagikan untuk saya simak. Bagaimana mereka bermain dimasa kecilnya, bagaimana mereka nakalnya mengerjai adik-kakak perempuannya, atau bagaimana mereka pernah membuat kakek dan nenek menjadi frustasi karena tingkah mereka. Yang pasti, setiap ingatannya seperti menghidupkan kembali karakter bapak untuk saya ajak bermain di dimensi dunia ini.

Tapi, karakter bapak tidak akan pernah menjadi nyata kembali di kehidupan ini. Bapak hidup melalui mimpi-mimpi saya. Bapak hidup melalui imajinasi saya.

Karena saya sadar. Bapak berbeda dimensi dengan saya, atau lebih tepatnya dengan kami.

Tak apa, semua sudah menjadi jalan cerita dari Allah. Bukankah umur, rezeki, jodoh, takdir, mati semua sudah ditentukan pada saat ruh kita dihembuskan diperut bunda pada saat kita berusia 4 bulan dimasa kandungan bunda?

Saya tidak perlu menyesali apapun. Bagaimana cerita masa lalu atau kemudian. Karena baik sekarang, lusa, atau mungkin beberapa waktu kemudian tidak akan ada perbedaan dimensi. Karena tidak ada yang kekal di dunia ini.

Semua yang hidup pasti akan mati. Semua yang bernafas pasti akan menemui ajalnya. Dan saya akan bertemu dengan bapak kembali. Tanpa ada perbedaan dimensi.

With love,

Ndue.

Cawas, Klaten.
02 Agustus 2014.
23.20 wib.

Rindu Sejatinya

Beberapa hari ini entah saya sedang memikirkan banyak hal dalam kehidupan saya. Saya seketika merasakan sesak dan rasa yang membuncah. Rasanya, saya tidak sanggup memikirkan hal-hal yang akan terjadi suatu saat nanti, atau hal-hal masa lalu yang terus mengingatkan saya bahwa saya pernah memiliki kehidupan ditempat ini.

Malam ini, saya kepikiran untuk mengungkapkan rasa rindu atau kangen. Kepada siapapun. Saya sedang memikirkan seorang kekasih yang dimabuk asmara mengungkapkan keinginannya bertemu untuk menghapuskan sedikit saja rasa rindu itu cukup. Atau, suami istri berjauhan karena satu hal dan lainnya. Lantas, bagaimana rasa rindu anak kepada orang tuanya? Atau, sebaliknya. Atau juga rasa rindu hubungan vertikal antara saya dengan Allah?

Saya kepikiran Simbok sama Kakek yang sudah terbiasa ditinggal merantau keluarga saya sedari 20 tahun yang lalu. Pasti mereka merasakan rindu berkumpul, bercanda tawa dengan kami atau menangis kemudian karena harus berpisah untuk waktu sekian lama dan hanya bertemu beberapa malam saja.

Rasanya? Pedih. Bahagia. Terharu. Tertawa.

Saya setidaknya bisa sedikit merasakan hal itu. Karena saya di umur sd sampai smp pernah ditinggal Bapak dan Mama ke Jakarta untuk merantau. Rasanya sangat tidak menyenangkan. Saya bisa menangis semalaman sampai besoknya sakit atau mual karena terlalu banyak menangis. Sambil saya berharap mereka bisa pulang segera dan untuk waktu yang lama lagi.

Tapi. Mama dan Nenek pernah berbicara tentang waktu bersama.

“Kamu mau Mama dirumah lama atau sebentar kalau ditinggal pasti menangis. Apa sebentar saja terus berangkat lagi?”

Iya. Rasanya tidak adil. Saya ingin keluarga saya berkumpul lengkap. Sampai waktu yang lama. Tanpa dipisahkan jarak yang hampir 520KM jauhnya. Mengingat kenangan itu saja saya menangis saat ini.

Saya orang yang suka banget bermain dengan angan dan kenangan. Saya ingat betul tempat-tempat mana saja yang digunakan saya, Bapak dan Mama sewaktu berteduh ketika hujan. Atau tempat dimana ban motor kami bocor lalu ditambal. Atau juga tempat-tempat lain ketika kami makan bersama dan mengobrol tentang apa. Memory itu saya simpan rapat-rapat dalam ingatan saya. Dan saya tidak ingin menjadikannya penuh kemudian hilang. Saya ingin menyimpannya rapat dan hanya saya yang bisa membuka kotak kenangan itu.

Orang yang paling kuat dan tegar di kehidupan saya adalah Simbok dan Kakek. Entah apa yang harus mereka lakukan untuk menahan rasa rindu kepada saya dan Mama. Yang pasti, saya tidak pernah melihat mereka nangis ketika melepas kepergian kami. Mereka selalu melambaikan tangan, senyum, mendo’akan kami sampai di tempat rantau dengan selamat, dan memeluk kami. Sedangkan saya? Menangis sejadi-jadinya. Saya antara tega dan tidak tega meninggalkan mereka dirumah.

Satu yang pasti, ketika saya berdo’a memanjatkan setiap permohonan kepada Allah. Untuk memberikan mereka umur yang panjang. Sampai benar-benar diberi kesempatan kami berkumpul bersama-sama dirumah ini. Mungkin bersama anak-anak saya kelak. Semoga.

Ya Allah, saya titipkan segala yang terbaik untuk cerita kehidupan saya ini. Umur yang panjang untuk Simbok, Kakek, Mama dan seluruh keluarga disini. Juga, berikanlah mereka keberkahanMu, dan kehidupan yang menyenangkan. Amin ya Rabbal Alamin.

Cawas, Klaten.
01 Agustus 2014.
23.27 WIB.

My special day

Its my day. My birthday. And i feeling so happy.
Ada yang beda saat saya merayakan hari ulang tahun pada tahun ini. Mengulang tahun yang sama, mungkin bersama dengan orang-orang yang sama juga saat saya kali pertama melihat dunia ini. Tetapi jelas ada yang pergi dan datang dalam kehidupan ini.

Pagi tadi, sewaktu saya terbangun dari tidur lelap, sayup-sayup terdengar suara mama dan beberapa tetangga sedang mengobrol di teras. Rasanya tidak ada kehidupan yang lebih menyenangkan selain di Klaten. Tidak ada beban pekerjaan, tidak ada waktu yang memburu dengan bengisnya, bedanya kalau disini pasti saya akan menghabiskan uang, dan tidak menghasilkan uang dari hasil pekerjaan yang hanya mengobrol dan menikmati kehidupan. Mungkin, ada saatnya nanti. Biarlah menjadi rahasia antara saya dengan Allah nanti. Iya kan, Allah? 🙂

Cawas, Klaten. Tak lagi ramah beberapa hari ini. Saya notabene masih mengidamkan masakan soto di tengah pasar cawas, tetapi harus kecewa dengan tidak pernah dapat kesempatan untuk merasakan nikmat makanan itu karena sudah habis diburu oleh rombongan pemudik yang juga masih ada di sekitaran kawasan Cawas. Hampir setiap tempat makan penuh dengan penikmat makanan malam itu sendiri. Mau makanan sate, bakmi jawa, soto, tahu ketupat, semuanya rame dan kebanyakan sudah habis. Dan yang tidak kalah membuat saya geleng-geleng adalah semua mobil berplat Jakarta, Bandung, Semarang dan beberapa daerah lain memadati jalanan Cawas sehingga macet total. Saya sampai merasa Jakarta pindah ke Cawas. Entah sampai waktu kapan bisa kembali normal. Semoga secepatnya saja. Hahahaha.

Hari ini, saya dong dibuatkan nasi tumpengan yang dihadiri sama bocah-bocah sekitaran rumah dan juga sama simbah-simbah dan Pak Pendo’a kalau dijawa biasa disebut (Pak Mudin) atau apalah itu. Hahaha. Saya senang sekali akhirnya tidak melulu dengan kue yang penuh dengan blueband dan krim sebagai pemanis untuk mempercantik kue ulang tahun. Saya dibuatkan nasi tumpeng dengan menu khas sekali masakan jawa. Ada nasi tumpeng, ayam goreng, tempe goreng, tahu bacem, gudangan, sambal kacang dan ikan asin (gereh). Terus ditaruh cabai sebanyak angka ulang tahun saya. Dan itu so sweeet banget karena yang mengusulkan mama dan kakek ingat berapa angkanya. It was amazing!

Sampai semuanya selesai, saya membagikan nasi tumpengannya ke sanak saudara dan tetangga dekat rumah. Alhamdulillah bisa rata. Alhamdulillah ya Allah.

Oh ya, saya juga tadi menghadiri pesta pernikahan tetangga saya. Dan pestanya cukup meriah. Pengantin perempuannya dulu adik kelas saya sewaktu SD. Mungkin, usianya berbeda 3-4 tahun dari saya. Dan saya tersenyum melihat proses adat pernikahan kami. Sambil saya membayangkan, kapan dan bagaimana ya saya nanti apabila menikah. Pasti gak akan bisa tersenyum, karena kebanyakan nangis. Mungkin nangis terharu atau nangis karena pada saatnya telah tiba.

Karena, sesuatu yang didapatkan dengan susah payah, pasti akan menjadi indah. 🙂

Well, diakhir postingan ini saya mau menuliskan harapan-harapan saya.

1. semoga Allah memberikan umur panjang kepada saya, atau kalau takdir memutuskan berbeda, saya meninggalkan dunia ini terlebih dahulu, semoga saya bisa menjadi seorang yang diingat oleh banyak orang. Amin.

2. Mama, Simbok, Pak Tuwo. Semoga Allah memberikan umur panjang dan kesehatan buat kalian semua, ya. Karena kalian orang tua yang sangaaat saya cintai. Dan setiap pulang kesini pasti bakalan sedih dan nangis sendiri. Semoga ulang tahun selanjutnya masih bisa dirayain terus menerus bersama, ya. Amin.

3. Abang Hafiz. Semoga selesai skripsinya. Dan dikejar mimpi-mimpinya. Jangan kalah sama siapapun juga. Semoga semakin mengerti dan menjaga sampai saatnya tiba ya sweety. Amin

4. Siapapun juga, yang selama ini ada buat saya, mendo’akan saya, semoga kebaikan Allah menyertai kalian semua ya. Amin.

Dan hari ini saya tutup dengan ucapan Alhamdulillah untuk semua yang sudah Allah berikan kepada saya sampai dengan saya seumur sekian. Dan Bismillah untuk kehidupan saya selanjutnya. Untuk cerita yang siap diukir, atau untuk kejutan yang Allah siapkan untuk saya.

Karena hidup dan Allah suka banget ngajakin saya becanda. Dan saya suka banget di becandain sama Allah. 😉

Oh ya. Selama saya di Cawas, Klaten. Saya akan jarang berhubungan dengan socmed. Karena saya sendiri masih mencoba bersamai dengan signal yang gak karuan seperti ini. Jadi siapapun, harap bersabar menghuhungi saya. Sementara saya baru bisa mengaktifkan pesan singkat saja. 😉

Terima kasih ya untuk setiap do’a dari kalian. Alhamdulillah, saya masih bisa bernafas dan hidup sampai dengan saat ini. 🙂

With love,

Ndue.
Klaten, 31 Juli 2014.
23.00 wib.

My Review Abal-Abal : Step Up All In – Step Up 5 ( 2014 )


tumblr_n6zhgrnEC31tdh9k3o1_1280

Akhirnya setelah penantian panjang, saya menonton film bergenre drama-dance ini di Bioskop. Untuk Step Up 4 – Revolution, saya hanya menonton melalui DVD dirumah. Jangan ditanya DVD jenis apa, ya pastinya DVD abal-abal. Dan menonton melalui DVD saja saya uring-uringan karena filmnya benar-benar tidak menyambung dari Step Up 3 yang saya tonton juga dengan kekasih saya tahun 2010 lalu.

Film step up all in ini tetap sama inti ceritanya, dance kompetisi yang di adakan di LA. Los Angeles, bukan Lenteng Agung, ya. 😐 kali ini ada lagi dong si Moose dan Camile di film ini. Dan cerita Step Up 5 ini menceritakan kehidupan selanjutnya setelah mereka memenangkan kompetisi pada tahun 2010 lalu.

Kali ini ada Moose, Si kembar dari California, Dido, Manusia Listrik, beberapa team dari teman-teman Moose, Andie, Sean, dan karakter baru yang menggoda saya untuk tertawa karena keunikannya yaitu Chad. Mereka membentuk sebuah group tari bernama LMTRIX untuk kemudian bertanding di kompetisi The Vortex.

tumblr_n6zlu0vBB91tdh9k3o1_1280

And here we go.. My review.

Untuk cerita step up sendiri jangan terlalu berharap banyak unntuk apa yang akan ditawarkan didalamnya. Ceritanya standar, kompetisi dance, dan ya.. kalian juga pasti akan tahu bagaimana ending dari cerita step up. Hanya saja, mungkin sutradara step up all in kali ini bercermin dari kegaringan yang ada di step up revolution, sama halnya seperti cerita yang tidak ada sambungannya babar blas.

Jangan tanyakan peran Moose cs di film sebelumnya. Hanya pemanis di ujung saja. Padahal, kalau saya boleh menilai, Moose Cs dan Camile adalah icon dari step up itu sendiri, dan itu dihilangkan? Garing segaring-garingnya. 😐

Sampai akhirnya  saya melihat IMDB trailer dan jajaran cast yang akan bermain, betapa bahagianya saya melihat ada Adam sebagai Moose dan Alyston sebagai Camile akan bermain kembali di bagian film ini, ah itu akan menyenangkan, karena mereka berhasil mencuri perhatian saya di Step Up 3 tahun 2010 lalu. Walaupun timbul kecurigaan saya karena di bagian trailernya kenapa tidak saya temukan bagian Moose dengan Camile. Dan kecurigaan saya benar.

Oh.. betapa saya menjadi kecewa karena ceritanya garing. Bener deh saya aja sama kekasih saya akhirnya menyatakan hal yang sama. Bahwa sisi terbaik dari Step Up dari pertama sampai kelima ada di Step Up ke 3. Dari segi cerita, kompetisi, pilihan gerak dan lagunya, dan pastinya endingnya lebih dianggap sebagai film yang layak di tonton. Kali ini kami harus kecewa dengan film yang dihadirkan oleh Step Up.

tumblr_n6zlx7EPE71tdh9k3o1_1280

Karakter utamanya sendiri saya bingung sebenarnya letaknya ada di Sean atau di Moose? Oh saya perlu ungkapkan bahwa penari perempuan bernama Andie, terlihat sekali dia kaku, dan (maaf) terlihat sedikit gemuk dibandingkan pemeran film sebelumnya. Teteplah yang paling keren di step up 3.

Film ini mengecewakan. Endingnya gak karuan tidak jelasnya. Ceritanya mengambang. Dan entah saya akan menonton kembali atau tidak film step up selanjutnya apabila akan keluar lagi. Saya akan piker-pikir dengan baik.

My rating : 5/10