Masuk setengah hari, dan pulang mampir ke rumah kenangan untuk bernostalgia.

Rumah tersebut adalah kontrakan dua petak yang setia mendampingi keluarga kami dari tahun 1993 sampai 2007 (14 tahun) Bapak saat itu belum bisa menyewa rumah yang lebih baik lagi karena kondisi keuangan kami yang belum mumpuni.

Sampai 14 tahun lamanya tinggal di kontrakan tersebut. Makan, tidur, bercengkrama, dan masak pun diruangan itu. Panas sumpek semua tidak terasa karena itulah rumah ternyaman yang ada di dunia ini.

Sampai akhirnya karena suatu hal kami pindah ke tempat yang lebih baik lagi. Rasanya, seperti mimpi.

Tadi sengaja mampir untuk mengenang apapun ceritanya. Bertemu dengan orang yang bercerita sambil menahan tangis. Entah kenapa mereka menahan tangis tersebut. Rindu akan keadaan dulu katanya. Atau, mengenang Bapak saya yang dinilai orang paling nerimo di dunia ini. Orang yang tidak pernah komplain atau bertanya kepada Allah kenapa kehidupan yang dijalaninnya sedemikian susahnya.

Bahkan, makan dengan ayam saja kalau bukan tetangga yang memberikan kami tidak bisa makan seenak itu. Dan bapak tidak pernah komplain akan hal tersebut. Sehari sebelum dia meninggalkan kami untuk selamalamanya dia bahkan menangis meminta maaf kepada saya dan mama atas kehidupan yang selama ini dia bisa hadirkan untuk kami. 😦

Tadi ada tetangga yang rumahnya sekarang ditempati adalah rumah saya dulu. Mendadak dia nunjuk ke suatu titik.

“Dulu kamu belajarnya menghadap kesana. Terus kamu belajarnya ditungguin sama bapak kamu. Rasanya baru kemarin sekarang bapak kamu dah gak ada, Ndue. Insya Allah dia udah ditempat terbaik. Kamu gak lupa kan semua yang ada disini?”

Dan pecahlah tangis saya. Saya benarbenar tidak bisa menahan sesak yang membuncah bagaimana bapak dulu dengan setia menunggu saya belajar dari awal masuk SMK sampai lulus. Dia selalu bilang maaf karena tidak bisa mengajari saya tetapi dia bisa membantu menyemangati saya karena yang dia mau hanyalah dia bisa melihat saya lulus setiap jenjang pendidikan dengan sebaikbaiknya dan saya harapan satusatunya bisa mengubah cerita hidup keluarga saya.

Sampai dia meninggal pun, saya merasa belum bisa membahagiakan dia. Saya hanyalah menjadi seorang anak perempuan yang bermimpi untuk mewujudkan keinginan bapak mamanya dewasa nanti.

Hari ini saya belajar, bahwa masa lalu tidak bisa ditinggalkan atau dilupakan. Masa lalu adalah dimana diri kita terbentuk. Tanpa masamasa itu saya tidak bisa untuk tidak mengucap rasa syukur kepada Allah, Bapak dan Mama yang menghadirkan saya ke dunia ini.

Terima kasih untuk setiap detik kehidupan ini. Alhamdulillah. Selamat tinggal 2015, saya siap menyambut 2016.

Regards,

Ndue.

View on Path

Advertisements

Berpindah ‘Rumah’

Entah mendapatkan ide seperti apa, akhirnya saya memutuskan untuk berpindah rumah.

Rumah yang saya maksud disini adalah, tempat dimana saya bisa menulis dan menyambut kalian rekan-rekan terbaik saya di dunia maya untuk saya persilahkan masuk dan bisa singgah lama sambil menikmati cerita saya.

Well, rumah itu bernama www.ndueisndue.com rumah yang baru saya gunakan sedari 2 bulan yang lalu. Blog ini akan tetap ada. Sebagai mana mestinya. Untuk mengingat bahwa saya pernah memiliki rumah disini.

Jadi, silahkan berkunjung ke rumah saya yah, temans. Ditunggu kehadirannya 😀

Salam,

Ndue.

Malem-malem ditemenin sama saudara satu-satunya dan Mommy yang memberikan support buat bikin hal seperti ini.

Well, guys. I just wanna say. Inilah hidup. Ada usaha yang harus diberikan. Setelah “proses” step pertama, kedua, dan ketiga berhasil saya selesaikan ini jadi tahap selanjutnya. Perjuangan memperoleh data.

“Kamu sih ngambil temanya begitu.”

“Kenapa sih kamu make ribet gitu, data tuh yang nyarinya gampang aja gak usah ribet-ribet gitulah. Hidup aja udah ribet gak usah ribetin lagi.”

“Gak rugi tuh?”

“Kenapa mau-maunya kamu bikin kayak gitu. Kayak gak ada kerjaan aja.”

“Belum tentu juga hasil akhir kamu bagus nilainya atau bahkan bisa lulus, gak?”

Dan blablabla.

See, kalau berkomentar itu gampang banget kan yah? Bener kan yah. Gampang juga kan ngejatuhin orang hanya dengan satu kalimat saja. 🙂

Pas waktu Ibu Dosen menyarankan untuk bagaimana mendapatkan perhatian dari sumber datanya, maka berikanlah kenangan untuknya. Setidaknya itu akan menjadi image positif untuk saya. Saya mengangguk mengerti maksud dari Ibu Dosen. Setelah saya benar-benar mendapatkan jalur hijau untuk memperoleh datanya saya bertanya kepada mama. Mama menyetujui bahkan memberikan ide ini.

Mommy bilang sama saya.

“Nduk, alon-alon kanthi kelakon. Ojo dumeh, ojo kepancing konco-koncomu. Nerimo ing pandum, rezekine manungsa ki sangkan paran. Nduk, ojo pernah ngeroso piye-piye ngko ndak malah rekoso. Dilakoni kanthi ikhlas. Berbagi ndak akan bikin kamu rugi nduk. Sampe kapanpun itu.”

Saya mbrebes mili. Mau nangis. Bukan karena dengkul saya yang bengkak karena jatuh kemarin. Tapi karena nasihat Mama itu yang sabar banget menemani saya dalam skripsi ini. Mama orang yang selalu ada untuk saya. Thanks alot mom. Love you soo much. :*

Bismillah. Mohon do’anya yah teman-teman. Terima kasih banyak semuanya, yah. :*

View on Path

Cara dan Prosedur Data Skripsi Tentang Pajak

Sebenarnya saya bukan orang yang canggih apalagi ahli dalam ilmu ini. Hanya ingin berbagi saja pengalaman saya untuk skripsi saya. Gini temans ceritanya, sejak beberapa bulan lalu memang saya sedang mengambil mata kuliah skripsi. Sebenarnya, kalau ditelatenin benar-benar, tidak ada yang sulit dengan yang namanya skripsi. Asal si empunya mau belajar membaca, berjuang, dan berusaha. *halagh

Intinya saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman yang barangkali sebagian pembaca blog saya ini masih dalam tahap kuliah dan berencana untuk mengambil skripsi tentang pajak. Dan list dari tulisan ini adalah saya ambil dari twitter saya @ndueisndue. Dan ini hanya sebatas saya bercerita sampai dengan persiapan seminar proposal, mungkin kalau ada yang menanyakan kelanjutannya saya akan update selanjutnya yah, temans. (ini sok ngartis banget) =))

Dan ini kutipannya yah, temans. Silahkan disimak 😉

 

  • Well, guys. Maaf ya kalau TLnya terkesan banyak cerita dari saya bukan kultwit tapi. *halagh mbulet. Wis langsung aja wis.
  • Jadi boleh kan ya@PajakMania ane cerita sedikit tentang prosedur yang ane rasain. Nanti, barangkali bisa saling berbagi pengalaman. 🙂
  • Gini, saya akhirnya sampai juga di tahap akhir belajar di perguruan tinggi yang nantinya bergelar s1. Insya Allah. :))#skripsipajak
  • Jurusan saya ekonomi dengan jurusan akuntansi. Karena luas, jadi saya tetapkan adalah pajak untuk judul skripsi saya.#skripsipajak
  • Awalnya rada gak yakin. Tp berkali-kali saya baca chipstory dari@PajakMania tentang SE dan prosedurnya maka saya jawab bisa. #skripsipajak
  • Memilih skripsi di akhir tahun begini itu rasanya kayak gimana gitu ya. Setiap KPP pasti sibuk dengan urusan yang lain. But i keep trying.
  • Enden, setelah berkali-kali minta surat penelitian dari kampus. Dan nyebar dimana bisa KPP di teliti. Finally i got it. :’)#skripsipajak
  • Jadi gimana prosedurnya? Okeh begini temans :1. Harus ditentuin dulu mau judulnya apa? Pajak juga luas. Di khususin lagi ya.#skripsipajak
  • Bisa itu kepatuhan, pemeriksaan, efilling, dropbox, apapun itu. Di khususin dulu. Jadi tahu metode datanya apa ya.#skripsipajak
  • Cari jurnal penelitian yang sebanyak-banyaknya untuk menentukan variabelnya. :)) harus bisa. Pasti ada kok. Banyak.#skripsipajak
  • Setelah itu. Kalian tahu datanya seperti apa. Kalau perlu minta ke DJP yah kalian harus minta surat pengantar dari kampus.#skripsipajak
  • a. setiap kampus pasti ada. Jangan khawatir, biasanya boleh minta lebih dari satu surat. 🙂 saya berkali-kali malah. Hahaha.#skripsipajak
  • Langsung dateng ke KPP tempat penelitian mau dilakukan. Biasanya bertemu dengan sub bagian umum.#skripsipajak
  • Kalau kalian pemalu, hilangkan dulu malunya. :)) banyak-banyakin nanya. Saya berkali-kali nanya supaya gak nyasar.#skripsipajak
  • a. bisa nanya ke pak satpam, atau receptionistnya kalau mau bertemu dgn sub bag.umum mau izin penelitian gitu dll.#skripsipajak
  • Setelah bertemu dengan sub bag. Umum dijelaskan keperluannya apa. Dari kampus mana. Dan maunyaa gimana.#skripsipajak
  • Saya siy gak bilang setiap KPP bs langsung diiyain. Tp namanya usaha. Semakin banyak nyoba, semakin banyak kesempatan bisa.#skripsipajak
  • Biasanya surat pengantar kita ditinggal dulu. Terus nanti dikabarin. Nah, sering-sering telp nanya gimana hasilnya.#skripsipajak
  • Kalau udah dikabarin udah disetujui & udah di ada suratnya untuk minta ke DJP pusat ya langsung diambil yah.#skripsipajak itu step awal.
  • Step awal juga udah sesuatuh banget. Jadi kemarin saya langsung meluncur ke DJP pusat.#skripsipajak
  • Kalo ada yang nanya lokasinya dimana? Samping gedung mandiri dan bkpm. Turun halte bussway gatot subroto lipi.#skripsipakal
  • Terus saya jalan ke gedung utama. Ke receptionist bilang mau ke p2 humas. Taunya saya cm disitu. 🙂 dilantai 16#skripsipajak
  • Nah pas udah di lantai 16. Ketemu satpam dan diantar ke ruangannya. Gedungnya keren banget lho temans. *intermezzo* #skripsipajak
  • Pas ketemu bapaknya ramah bgt sy lupa namanya. terus sy diminta ke lantai 22 kanwil jakarta barat. Krna kppnya di jakbar.#skripsipajak
  • Karena kalo riset s1 minta surat pengantarnya ke kanwil. Jadi surat yang sudah disetujui KPP tadi diserahkan ke kanwil.#skripsipajak
  • Pas di lantai 22 sy langsung bertemu dengan Ibunya. Ibunya baik & ramah banget. Sy suka. terus diminta balik besokny.#skripsipajak
  • Enden saya ditanya. Metode nya apa? Kuisioner apa wawancara? Saya bilang kuisioner. Dan surat pengantarnya bisa dibuatkan.#skripsipajak
  • Dan yak step kedua berhasil. Alhamdulillah. Tinggal step ketiga dapet surat pengantar terus ke KPP lagi deh. Mulai kuisionernya. Yiayy!
  • Ya memang siy kadang suka dibayangin ribet. Makanya jangan dibayangin. Dijalanin walau berat. Pasti bisa.#skripsipajak
  • Dari awal pelajaran metodelogi penelitian, dosennya wanti-wanti saya, datanya bagaimana? Saya jawab Insya Allah bisa.#skripsipajak
  • Jadi sekian dulu ya. Siang ini Insya Allah saya seminar Proposal. Semoga berhasil. Mohon do’anya temans. Nuhun yak.#skripsipajak

 

Jadi sekian kutipannya yah, temans. Atau kalau ada yang punya twitter silahkan cek di favorite saya atau bisa juga berkunjung ke chipstory yang saya buat disini. Dan semoga berguna, yah. Ini pengalaman saya, kalian gimana? Berbagi cerita sama saya yuk! Atau kalau ada yang dipertanyakan silahkan saja, ya! Dan tetap semangaaaat!! Ciayoooooo…

 

Jakarta, 24 Nopember 2014

23.13 WIB

sign

 

Dear Mommy

Hai Mom, sesekali aku ingin menuliskan catatan tentangmu. Apapun itu, tak harus tentang bagaimana Mommy selalu berjuang untuk kehidupan kita. Tapi, kali ini aku ingin bercerita tentang apapun yang membuat dada ini sesak, Mom.

Mom, maafin aku ya, tadi sewaktu kita pergi berdua aku masih saja tidak bisa mengendalikan segala amarah dan rasa yang bergejolak dihati. Hasilnya menyedihkan, acara belanja bulanan bareng yang tidak selalu bareng setiap bulan hancur total. Sepanjang kita berbelanja hanya membisu. Aku pasti salah ya Mom? Maafin aku ya udah bikin Mommy sedih atau merasa kecewa sama aku. Aku gak bermaksud seperti itu, Mom. Aku sayang sama Mommy.

Mom, boleh aku ceritakan semua keluh kesahku padamu? Hari ini aku datang ke kampus, Mom. Ketemu dengan anak yang satu bimbingan sama dosenku. Anak itu beberapa minggu yang lalu baru di Bab 1, dan dia lebih dahulu seminar proposal dibandingkan aku. Senyumnya kecut, Mom. Dia seperti meledekku. Tak habis pikir rasanya ketika seperti semua mengejekku yang tak juga seminar proposal untuk skripsiku. Sepertinya mereka menjadikan seminar proposal sebagai tolak ukur keberhasilan. Padahal, dosen selalu bilang yang terpenting adalah sidang akhir, bukan seminar. Tapi, tak apa Mom. Mungkin aku hanya belum siap untuk seminar, atau seperti kata dosenku Mom, aku harus banyak-banyak membaca tentang skripsiku ini.

Mom, aku lagi cekak. Dompetku tiris dan menyedihkan. Sedari kemarin aku berdo’a kepada Allah untuk memberikan kebaikan untukku. Tak melulu uang, tapi kesehatan dan rezeki yang lancar untuk Mommy. Beberapa bulan ini Mommy banyak membantuku dalam keadaan yang kurang enak ini. Mommy selalu menyuntikkan dana untuk kehidupan sehari-hari. Rasanya malu, Mom. Gimana mau jumawa didepan Mommy kalau akhirnya aku harus menyerah dan meminta pertolongan Mommy.  Padahal, selama aku bekerja dari lulus SMK aku sudah janji untuk tidak menganggu Mommy lagi. Aku minta maaf yah, Mom masih suka merepotkan Mommy. Dan terima kasih untuk bantuan yang selalu Mommy berikan untukku.

Mom, setiap orang yang mendengarku memanggil namamu dengan sebutan Mommy atau Momsky pastilah menertawaiku. Mereka menganggap kita wong ndeso yang harusnya dipanggil Emak, Simbok, atau lainnya. Bukan aku mau sok begayaan Mom. Hanya saja, sehubungan dengan kenyamanan yang ada, aku lebih suka manggil Mommy. Keren menurutku. Mommy gakpapa, kan?

Mom, ini sudah akhir tahun. Yang mana awal tahun aku harus menghadapi kerjaan segambreng-gambreng itu. Rasanya penat banget, Mom. Belum puas aku menikmati waktu yang ada. Tapi, aku tidak boleh jadi orang seperti itu kan, Mom? Aku harus bersyukur dengan keadaan dan waktu apapun kan, Mom? Iya, maafin aku yang masih aja suka mengeluh. Tapi Mom, terima kasih untuk liburan menyenangkan di tahun ini. Akhirnya, Mimpi selama lebih dari 17 tahunan bisa terwujud menjadi nyata. Yap, kita pergi ke Bali. Walaupun Mommy pernah kesana, tapi setidaknya Mommy tidak mengeluh bosan kesana lagi untuk mengajakku. Jadi rencana tahun depan kita harus realisasikan yah, Mom! Iya.. hayuk kita jalan ke Singapore atau Malaysia yuk, Mom! Insya Allah kalau ada rezeki dan waktunya kita berangkat kesana yah, Mommy.

Mom, aku ngelanjutin ngerjain revisi proposal penelitianku dulu yah, Mommy. Walaupun belum juga sidang proposal, tidak apa-apa Mom. Aku masih terus berusaha, dan mencoba (mencintai) menikmati prosesnya. Doa’in aku yah, Mommy.

Selamat tidur, Mom. Mimpi indah yah. Terima kasih untuk waktu bersamanya selama ini.

Love you so much, Mom. I love you from the deepest of my heart. Good night, sweet dream.

 

With love,

sign

Ndue.

Jakarta, 08 Nopember 2014

00.19 A.M

Curhatan Insomnia

IMG_20141020_012226
Hai, sebut saja saya akhir-akhir ini menjadi perempuan kalong. Bukan-bukan karena saya gegalauan terus gak bisa tidur, atau kemudian saya mengupdate semua social media saya karena kegalauan saya itu, tetapi saya benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan target hidup saya yang tidak berkesudahan. (ini semacam lebay)

Okay, manusia boleh bermimpi, kan? Kali ini sederhana saja mimpi saya. Saya hanya ingin sebelum akhir bulan Oktober ini skripsi saya selesai sampai Bab 3. Itu saja? Iya hanya itu saja. Tidak perlu muluk-muluk hanya itu. Dari awal minggu Oktober, sampai besok minggu ke-3 Oktober saya harus bolak-balik ke kampus untuk menemui dosen tercinta dan meminta bantuan Ibu dosen mengoreksi tentang penelitian saya ini. Walaupun beberapa kali harus ditolak, disemangatin dengan bahasa yang err, kurang gimana gitu ya ditelinga, tapi tak apalah semua itu demi saya supaya lekas selesai.

Alhasil, saya kemudian diperjalanan pulang kampus biasanya menangis. Menangis bukan karena kesal atau gimana, tetapi saya semakin hari-semakin merasa mudah lelah. Seperti ingin menyerah saja. Melihat rekan-rekan lain yang sudah sidang seminar proposal dengan bertemu dosen penelaah. Lha saya masih stuck di Bab yang itu-itu saja. 😦 setiap Senin atau Rabu saya harus ke kampus di sela-sela jam makan siang, ketika harus panas-panasan, kebut-kebutan, kejar-kejaran dengan si waktu yang kurang ajar bengisnya, menunggu setengah bahkan sampai satu jam untuk bertemu lima menit saja oleh Ibu dosen dan akhirnya disuruh pulang belajar lagi. Duh, sakitnya tuh disini. *nunjuk kepala yang mulai migrain.*

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menghadapi yang namanya skripsi, kira-kira 4 tahun lalu saya juga pernah yang namanya mengerjakan tugas akhir. Saat itu malah lebih parah. Saya masih aktif mengambil SKS penuh di kampus yang lama. Pontang-panting kuliah mengejar jam kuliah, mengejar dosen, rasanya gak karu-karuan saya mau mual saat itu. Sampai akhirnya saya merasa frustasi untuk menunda jadwal sidang karena saya benar-benar hopeless saya gak mengerti harus berbuat apa saat itu. Kemudian, datanglah 2 orang terpenting dalam hidup saya, yakni Putri sebagai sahabat yang membagi saya banyak softcopy untuk tugas akhir. Dan saya tinggal memilih yang mana yang mau digunakan. Dan pastilah orang kedua adalah kekasih saya si Abang tampan bernama Hafiz itu. Dia orang yang dengan semangatnya menyemangati saya supaya tidak menyerah dengan keadaan apapun. Dia bahkan menertawakan saya ketika saya menyatakan bahwa sudah tidak kuat lagi. Dia memang benar-benar so sweet tidak salah saya menyematkan panggilan sayang buatnya yaitu; sweety. *ditimpuk massa*

Oh well, saat ini saya benar-benar menikmati malam yang sejatinya malam. Tidak ada suara apa-apa selain deru angin dari pergerakan kipas ac yang ada di belakang saya. Ada Mama dan saudara saya satu-satunya yang terlelap dalam tidurnya. Kali ini, gantian saya menjaga mereka dalam tidurnya. Juga ada sweety di ujung sana yang terlelap dan terbangun dalam tidurnya karena mimpi buruknya. Don’t worry sweetheart, I’ll keep you even in the dark of whole your dream. Saat-saat seperti ini adalah saat yang menjadikan saya merasa intim dengan malam, kenangan, dan tentunya kerjaan yang harus saya kerjakan dengan menggunakan laptop yang sama sejak tahun 2009 lalu.

Laptop ini aneh. Kadang-kadang dia ngambek, sama halnya dengan beberapa hari lalu ketika saya dengan semangatnya mengetik bab 2 dan 3. Sudah 1 jam saya asyik mengetik di tempat yang terkenal dengan ayam itu. Sambil menikmati gratisan redeem dari Samsung, dan juga wifi yang, yah kadang-kadang menyakitkan. Mendadak laptop saya blue screen dan saya belum sempat menyimpan semua ketikan saya tadi. Alhasil, saya akhirnya mengumpat sejadi-jadinya. Semua kebun binatang keluar dengan derasnya dari mulut saya tanpa bisa saya rem. Saya mengadu sama Mama, yang akhirnya menyuruh saya untuk pulang saja, kemudian dalam diam dan kesal saya bisa tidur malam itu.

image

Paginya, Mama mengajak saya bicara untuk membeli laptop baru saja. Saya mau, saya kepingin banget malah, tetapi masalahnya kantongnya yang belum bisa membantu saya menggantikan acer kesayangan saya ini. Banyak kenangan yang saya lakukan berdua dengan laptop ini. Feeling so sad also guilty but should be taft. If I have money, I’ll buy new laptop. Insya Allah.

Jadi, sekian dulu cerita saya malam ini, cerita saya menjadi seorang insomnia untuk mengerjakan skripsi sambil juga menikmati setiap alunan lagu yang keluar dari si Acer ini. Kemudian, sambil juga saya menikmati sepoy-sepoy angin yang ada dibelakang saya, dan ketika saya rebahan, saya selalu mengucap syukur Alhamdulillah, begitu nikmatnya tidur disamping Mama. Mungkin, kalau tidak ada skripsi, saya tidak akan mensyukuri betapa waktu untuk tidur itu menjadi menyenangkan. Bukankah manusia itu harus merasakan susahnya seperti apa dulu baru kemudian bisa bersyukur, kan? Semoga saja kedepannya tidak, ya!

Jakarta, 20 Oktober 2014.

01.29 Pagi.

sign

Menjelajahi Keraton Solo dan Taman Sri Wedari

20140806_123043

Duh, maaf ya saya benar-benar (alasan klasik) sibuk untuk mengupdate tulisan di blog ini. Rasa-rasanya saya sendiri juga hampir melupakan tugas dari kuliah saya kemarin dalam mengisi jawaban kuliah online. Ah.. skripsi ini benar-benar menyita waktu saya. Jadi gimana kelanjutan skripsinya? Oke skip. I don’t want to speak about my research. 😐

Sepertinya ini menjadi tulisan tertunda. Saya berencana memposting tulisan ini sekitar sebulanan yang lalu. Tapi, belum terlaksana karena ya itu tadi. Di entar-entarin lama-lama jadi terlupakan. Sama halnya dengan perjalanan saya ke Medan. Rasanya, sudah setahun yang lalu dan saya masih belum menuliskan di blog ini. *pentungin pemalas* Hahahaha.

Okay, jadi ceritanya begini kawans. Saya ini orangnya penasaran. Dari dulu, ketika saya hidup di Klaten, saya selalu suka nanya ke Simbok atau Kakek saya mengenai keraton Yogya maupun Solo. Tetapi, setiap acara muludan, kami sempatkan untuk berkunjung ke Solo melihat kebo bule yang konon namanya Mbah Slamet.

Masih terekam di ingatan saya, bentuk dari alun-alun dan bagaimana abdi dalem dari keraton tersebut. Kemudian, saya beranjak dewasa dan saya pindah ke Jakarta. Sedikit melupakan tentang keraton, tapi kemudian saya berencana akan mengunjungi tempat itu suatu saat nanti ketika saya dewasa, dan ketika saya mempunyai uang sendiri.

Finally, waktunya dateng juga. Lebaran 2014 ini sesuatu. Saya mempunyai banyak waktu liburan. Tetapi, namanya juga lebaran, selama masih suasana lebaran mau liburan selama apapun gak akan cukup, ya? Masih merasakan kemenangan untuk berkunjung kerumah sanak-saudara, menyambung silaturahmi, dan tentunya berbagi cerita selama di perantauan. Ah, saat-saat itu menjadi menyenangkan dengan keluarga.

Lebaran tahun ini saya memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Klaten. Mama memutuskan untuk berangkat lebih dahulu ke Jakarta. Saya akhirnya mengantarkan Mama ke Stasiun Klaten, dan kemudian saya naik kereta menuju Solo bertemu dengan sahabat saya disana. Dan perempuan cantik itu bernama Mbak Intan Sawitri. Lama saya tidak berjumpa dengannya, merindulah saya dengannya. Dan pastinya hari ini akan menjadi menyenangkan! Yiayy..

Saya yang hanya mengandalkan pengalaman naik kereta listrik di Jakarta memberanikan diri naik kereta menuju Solo. Tadinya, saya penasaran yang namanya Solo Balapan, tapi kata Mbak Intan lebih baik saya turun di Purwosari saja. Yasudah saya menurut apa katanya Mbak Intan. Jadilah saya menunggu distasiuan hampir 2 jam. 1 jam pertama menunggu barengan Mama, kemudian Mama berangkat terlebih dahulu naik Argo Lawu, dan saya menyusul 1 jam kemudian naik kereta Sri Wedari yang dibandrol seharga Rp. 10.000,- harga yang cihui, kan?

20140806_083721

Sambil saya sedih karena Mama berangkat duluan, dan saya melambaikan tangan, moment-moment seperti itu menjadi menyedihkan kalau saya mengingat kenangan masa kecil saya dulu. Walaupun saya tahu bahwa setiap pertemuan akan ada perpisahan, pun pasti sebaliknya hanya waktu saja yang akan menjawab kapan pertemuan itu terjadi lagi. Saya menunggu di stasiun untuk kereta yang mengantarkan saya ke Purwosari. Saya tidak ada teman, hanya sendirian. Saya lihat seorang Ibu duduk sendirian. Saya ajak bicara, dan akhirnya Ibu tadi menjadi teman saya sampai dengan berpisah di Stasiun Purwosari. Seorang Ibu yang saya tidak tahu siapa namanya, yang banyak bercerita tentang Solo, kehidupan pekerjaan dia, dan kehidupan lamanya di Jakarta. Semoga, ada saatnya nanti saya bertemu kembali dengannya. Saya melambaikan tangan perpisahan sama Ibunya saat di Purwosari. Awal yang hebat untuk hari ini. 🙂

Akhirnya saya bertemu dengan Mbak Intan. Yah ampun Mbak. If you know what im feeling.. I feeling soo soooooooooooo happy to see you again. Sooooooooooo exited for exploring Solo Today. Its like my dream come trueeeeeeeeeeeeee. Thanks a lot for accompanying me today. :*

Saya diajak naik TransSolo. Aduhai, ini Bisnya walaupun gak sebesar Transjakarta, tapi jangan lupa ketika di haltenya bilang saja mau kearah mana gitu yah. Jangan main asal naik aja. Nanti yang ada kalian nyasar lagi 😐 tarifnya Rp.3.500,- juga kalo gak salah sekitar segitu. Saya lupa. Dan akhirnya perjalanan kami berlanjut..

Kami naik becak. Sebelum pintu masuk alun-alun Solo biasanya banyak becak menunggu penumpang disitu. Saran saya, sewa saja becaknya hitungan jam. Jangan pertujuan karena nanti kalian akan capek didalam komplek keraton berjalan. Setelah deal harganya, akhirnya saya naik becak juga. Rasanya gimana? Romantis. Saya bahkan bisa mendengar angin berhembus, jalanan aspal, dan kayuhan Bapak pengayuh sepedanya. Semua itu tidak ada duanya. Saya dan Mbak Intan bercerita panjang lebar. Dan, akhirnya saya menemukan objek untuk foto. Well, saya berfoto bersama prajuritnya. Oh ya, kalau kalian ditawari oleh tukang foto keliling ada baiknya nego dulu harganya yah, takutnya sudah terlanjur tercetak dan kalian tercengang mendengar harganya. ^_^

20140806_151632

Setelah itu, saya masuk ke Keraton Solo. Dan berfoto-fotolah sepuasnya saya disini sama Mbak Intan. Nanti, akan kalian temukan air minum dari sumbernya asli. Konon, sumbernya ini tidak akan kering bahkan dalam keadaan kemaraupun. Seikhlasnya saja untuk mengganti air minum segelas ini. Dibasuh mukanya, dan sesuai kepercayaan dan mitosnya, air ini bisa menjadi penyembuh dari sakit, atau dimudahkan urusannya. Jadi, ya balik lagi ke diri masing-masing yah, kawans. 🙂

20140806_124138

Setelah puas berfoto dan menjelajahi dalam Keraton Solo, kami menelusuri alun-alun yang ada kerbau bulenya. Tadinya saya penasaran seperti apa bentuknya, dan taraaa setelah melihat saya langsung mengagumi ciptaan Allah. Satu lagi seperti keajaiban, kerbau ini bentuknya lain daripada yang pernah ada dipikiran saya. Kerbaunya tampan benar-benar seperti bule. Saya saja melihatnya gemas untuk berfoto dengan mereka. Gimana para turis yang lain, yah? :p

20140806_131605

20140806_130402

Solo itu identik dengan yang namanya Pasar Klewer. Disini pusat batik terbesar yang ada di Solo. Saya kalau ada uang juga maunya mampir kesitu, berhubung budgetnya pas-pasan saya jadinya tidak mampir. Hanya melintas saja, kemudian perut inipun sudah minta jatahnya. Dan, saya di Tlaktir nasi timlo solo. Kata Mbak Intan itu makanan khas Solo yang enak. Wahwah, saya penasaran. Dan pas sudah ditempatnya ada penyanyi jalanan yang menghibur kamu. Suasanya menyenangkan, dipinggiran jalan yang wah asik deh. Rasa nasinya juga enak, kayaknya bisa sewaktu saat nanti saya datang kesana lagi untuk menikmatinya. 😀

20140806_133941

Sudah selesai makan, saya meminta Mbak Intan menemani saya untuk mencari oleh-oleh pesanan Mercu Caur yang kece itu, dan bocah-bocah dikantor. Haduh, saya tapi lupa nama pasarnya apa, jadi maafkan yah. 😐 tapi yang saya ingat, posisi pasarnya dekat dengan Klenteng yang ada didepannya. Karena kami naik becak dari depan situ. Saya bahkan sempat berfoto di depan Klenteng itu dong. Sebelum pulang, saya penasaran sama pembicaraan Ibu yang tadi di stasiun untuk mampir ke taman, dimana taman itu menjadi nama kereta yang tadi saya gunakan untuk mengantarkan saya ke Solo. Taman itu bernama Sri Wedari. Walaupun Mbak Intan tahu bahwa didalam taman itu tidak ada apa-apa selain hiburan anak-anak, tetapi saya kepengen banget mampir kesana. Dan terima kasih banyak Mbak Intan sudah mau menemani.

20140806_143322

Di taman Sri Wedari, saya akhirnya bisa cerita hati kehati sama Mbak Intan. Namanya juga perempuan, lama tidak bersua, pasti ada saatnya dimana kita harus membagi cerita. Mau tentang apapun. Hubungan percintaan, jodoh, keluarga, cita-cita, apa yang sudah dicapai, dan apa yang akan menjadi rencana selanjutnya. Semuanya menjadi bahasan kita mengobrol siang itu. Dan sambil kami mengobrol, sambil juga Bapak tukang becaknya membeli es. Haduh saya ikutan pengen. *ngeces*

20140806_145906

Akhirnya waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, karena di jawa itu kalau sudah jam 6 harusnya perempuan sudah dirumah untuk beristirahat. Jadi, saya tidak boleh kemaleman untuk kembali ke rumah. Apalagi saya tahu, Simbok pasti khawatir dengan saya. Karena saya tidak tahu jalanan di Jawa dan dengan nekatnya saya jalan sendirian. Naik kereta pula. Simbok tersugesti, bahwa naik kereta adalah suatu perjalanan yang jauuuuuuuuuuuuh sekali, walaupun kenyataannya tidak. Jadi saya harus bergegas kembali ke stasiun.

Dan moment-moment perpisahan itu datang lagi. Feeling so sad, when I should leave this place, also Mbak Intan. 😦 I wish someday I can back again. Saya akhirnya mendapat kereta Madiun Jaya, karena kereta Prambanan Ekspress ataupun Sri Wedari sudah jalan. Tiket kereta ini lebih mahal dari Sri Wedari, tetapi fasilitasnya juga lebih bagus. Harga Tiketnya Rp. 20.000,- dan saya harus melambaikan tangan ke Mbak Intan sebagai tanda perpisahan. Thanks a lot Mbak Intan. Jangan kapok yah. ^_^

20140806_121614_LLS

Dan akhirnya saya ketiduran di kereta, sambil mengingat-ngingat kenangan semasa kecil saya menunggu kereta Senja Bengawan datang dari Solo. Rasanya sakit itu masih ada, ketika saya harus berpisah dengan Bapak dan Mama karena mereka merantau ke Jakarta. Takapa, karena hijrah kesuatu tempat karena menuju kebaikan Insya Allah ada pahala dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Akhirnya sampai juga saya di stasiun jam 5 sore, kemudian saya naik motor dari Klaten ke Cawas dan sampai dirumah Alhamdulillah pas maghrib. Saat itu juga Mama sms bahwa dia sudah sampai di Jakarta dengan selamat. Alhamdulillah. Hari ini saya senang dan pengalaman dalam hidup saya yang menyenangkan.

Dan ini ringkasan biaya perjalan saya:
1. Kereta Sri Wedari Klaten – Solo Rp. 10.000,-
2. Kereta Madiun Jaya Solo – Klaten Rp. 20.000,-
3. TransSolo PP berdua Rp. 14.000,-
4. Becak muterin Keraton Rp. 40.000,-
5. Becak Pasar ke Sri Wedari Rp. 40.000,-
6. Sumbangan Foto Prajurit Rp. 10.000,-
7. Sumbangan Foto Kereta Rp. 20.000,-
8. Tiket Masuk Keraton berdua Rp. 20.000,-

Dan sebagian banyak semua ditlaktir Mbak Intan. Huwah, Thank so much yah, Mbak :*

Wisata itu gak harus yang mewah dan mahal. Adakalanya kita harus mengenal budaya kita sendiri. Mulailah mencintai hal yang kecil dan melekat dalam diri kita, sebelum mencintai hal besar yang sulit digapai. Jadi, kapan kalian mau main ke Keraton Solo? Semoga secepatnya ya! 😉

Dan ini gambar-gambar kami lainnya. 😀

This slideshow requires JavaScript.

Jakarta, 18 Oktober 2014
00.47 WIB

With Love,

sign

Event Popcon Asia 2014 di Smesco Indonesia

20140921_160344

Yiay.. akhirnya dong saya tahun ini bisa juga menghadiri sebuah pameran yang banyak booth-booth keren itu. Duh, rasanya seperti mengingatkan saya kembali ke dua tahun silam di acara ngerumpi days out, dimana saat itu menjadi menyenangkan sekali karena saya pulang-pulang banyak membawa goodie bag. Dan yang lebih menyenangkannya adalah semua itu haratisan. 😀

Setelah hampir 2 tahun tidak merasakan yang namanya libur di hari minggu, akhirnya minggu kemarin yaitu tanggal 21 september 2014 saya bisa libur juga. Dosen pembimbing berhalangan hadir untuk jadwal bimbingan. Jadilah saya diajakin oleh teman terkece yaitu nyonyah anne untuk menghadiri pameran keren katanya. Bedanya kali ini saya bayar tiket masuknya. Well, tidak terlalu mahal sih menurut saya, karena harga tiketnya sendiri senilai Rp. 25.000,- dan saya puas dong! Hahaha

Jujur saja ini pengalaman pertama saya menghadiri pameran sebesar ini di gedung terkeren juga. Dan pastinya saya bisa bertemu dengan artis. Eleuhhh, meuni kasep-kasep pisan. Dan ramah semuanya. Saya sendiri kayak gak mau cuci tangan aja abis salaman sama mereka. Hahahha. Itu ada si Surya Saputra, aktor yang sering main di FTV lah, atau layar lebar sebagai bapak-bapak keren biasanya karakternya. Kalau gak tahu juga, itu lho.. mantan suaminya Dewi Sandra. *eh ini malah focus ke acara gosipan*

Setelah itu saya ketemu dong sama anggota grup Netral. Tadinya saya rada gimana gitu sama orang ini setelah nonton film Mama Cake, yang karakternya dia bener-bener bikin saya errrr, geli sekali. Karena dia mau meng.. aduh jangan diteruskan lah ya. Namanya Om Bagus netral. Yiaaayyy. Tadinya saya udah gak ada harapan gitu bisa foto bareng dia di booth MD cartoon Cuma, pas waktu keluar nonton film kartunnya saya paprasan jadilah saya berfoto dengannya dong. Dan Oh ya, orangnya itu ternyata cool habis! Dia langsung ramah dan tersenyum keren berfoto dengan saya. *ini jadi kapan mau cerita pamerannya, Ndue!*

Okay, back to topic.

Apa itu Popcon Asia Festival? “POPcon” adalah kata yang lebih pendek dari “Popular Culture Convention”, salah satu pameran yang terbesar di Asia yang bertujuan untuk menampilan kreatifitas seperti Comic, Mainan, Film dan Animasi dari pencipta untuk mereka yang menyukainya. Jadi sewaktu saya memasuki gerbang pintu masuk saja, saya sudah dibuat diam tak bersuara. Melihat tangan-tangan kreatif dari setiap penjaga booth untuk menggambar atau melukiskan gambar dalam kertas atau media lainnya.

Intinya apa? Keren! Udah itu saja. Semua karakter animasi dan kartun ada di sana. Mau marvel, mau manga, mau animasi Indonesia, atau karakter-karakter lainnya yang sering kita saksikan di teve bisa dilihat langsung. Ada juga karakter game-game online ataupun offline yang bisa juga kita saksikan disana.

Satu yang menyenangkan dalam ikutan pameran seperti ini adalah mencari booth yang memberikan cetakan foto haratisan, atau fasilitas haratisan lainnya seperti pin mungkin, atau syukur-syukur goodie bag. Sayangnya, kemarin gak ada goodie bag haratisan. *maklumin aja ini muka haratisan.* =)) jadi setelah saya dan nyonyah nemuin tempat haratisan semangat deh kita foto-foto yang nanti hasilnya kalian lihat di slide gambar dibawah ini ya, temans!

So, dari banyak booth disana tetap yang paling keren ya MD entertainment. Soalnya disana saya bisa menonton animasi karya anak Negeri. Ada adit jarwo dan tendangan dari langit. Semuanya keren. We should proud of this. You should!

Setelah 2 jam jalan gak karuan juntrungannya akhirnya kami pulang. Oh, sebelum pulang, kami membeli oleh-oleh dari pameran itu. Saya memilih membeli boneka lukis dengan karakter yang ada di film Despicable Me yaitu si Agnes. Dan nyonyah dengan boneka Michael Jacksonnya. Semuanya dibandrol harga Rp. 50.000,- jadi kalau dua boneka ya harganya Rp.100.000,- bonekanya lucu, tapi tetep sih ya.. lucuan juga saya. *dikeplak* =))

Well, overall pameran kali ini seru dan menyenangkan. So, see you in next event, ya!

Jakarta, 27 September 2014.
00.21 WIB. Menulis postingan yang sudah tertunda 5 hari. 😀

sign

This slideshow requires JavaScript.

Judul Skripsi Aja Dulu

“Nduk bangun, udah jam 7 pagi… katanya mau kuliah.”

Makjang! Saya kesiangan bangun pagi minggu ini. Janji ketemu dosennya jam 7 pagi, dan saya masih belum apa-apa jam 7. Jangan ditanya saya ngantuk atau tidak, pastinya mengantuk sekali. Malam minggu saya tak lagi menyenangkan, setelah saya harus membaca segambreng-gambreng jurnal yang ada. Kemudian, setelahnya saya harus menandai mana-mana saja yang harus diambil.

Ah.. Ibu dosennya saja sudah ada dikampus, kenapa saya masih ada dirumah. Saya benar-benar dibikin salut sama Ibu dosen pembimbing saya yang ontime di hari minggu pagi jam 7 tepat sudah ada dikampus. Ketika banyak dari ruang dosen masih kosong, ruangan Ibu itu sudah terisi dengan semangat dari para murid bimbingan dan juga Ibu dosen yang sedang mencurahkan perhatian dan ilmunya.

Saya langsung bergegas mandi, kemudian siap-siap. Bersyukur Mama saya orang yang mengerti keadaan anaknya. Disaat krisis karena memang bulan-bulan keprihatian masih menyambangi saya, Mama menjadi satu-satunya orang yang dengan penuh perhatian dan kasih sayangnya menyiapkan sarapan untuk saya pagi itu.

Kalideres-Meruya cukup 20 menit saja. Entah, saya seperti Rossi gagal dari kalideres. Saya gragapan, intinya saya harus sampai kampus tepat jam 8 pagi. Setelah itu, saya mendapat kabar dari sama-sama rekan bimbingan, bahwa Ibunya hanya sampai jam 8 pagi saja. Lari-larianlah saya dari parkiran menuju ruangan Ibu dosennya. Dan ketika saya memasuki ruangan Ibu dosennya sudah ada anak-anak lain yang mengantre. Dan saya adalah urutan terakhir mengantre.

Saya deg-degan luar biasa ketika menunggu beberapa rekan saya dipulangkan untuk mencari jurnal yang lain. Saya tahu rasanya seperti apa, karena pernah juga saya tuliskan pada postingan sebelumnya. Makanya saya deg-degan ketika tiba giliran saya. Karena ini kali ketiga saya menghadap Ibunya, dan semoga saja kali ini ada titik temu antara saya dengan Ibunya.

Ibu dosen saya akhirnya marah. Ketika dia mengetahui saya belum sepenuhnya siap menghadap beliau. Bahkan dia mengancam mau pulang karena saya kelamaan menulis variable-variabel dari setiap jurnal yang saya bawa. Saya tidak marah atau sakit hati padanya, yang saya salahkan justru kenapa saya bisa seceroboh ini. Kenapa saya tidak belajar untuk mempersiapkan semuanya baru menghadap beliau. Saya ini benar-benar mahasiswi macam apa, kalau membaca saja saya sudah dihinggapi rasa malas. 😦 percayalah, Bu.. saya tidak akan mengulangi hal-hal seperti kemarin. Saya berjanji akan merubah sikap saya ini.

Sampai akhirnya saya temukan beberapa variabel, dan Ibu dosen akhirnya menyetujui dari judul skripsi yang saya akan kerjakan selanjutnya. Betapa saya mau menangis bahagia saat itu. Saya benar-benar merasakan indahnya proses itu sendiri. Walaupun saya tidak boleh terlalu bahagia karena judul saya belum berarti apa-apa. Skripsi yang baik adalah yang selesai. Udah itu saja intinya.

Disaat ibunya bicara, besok harus BAB 1 menghadap ke saya lagi. Duh rasanya semacam saya sekarang ditungguin sama kekasih saya. *ini kekasih yang mana coba dijelasin* *ngenes* =)) jadi semacam saya ditungguin seseorang untuk memberikan kepastian hubungan selanjutnya. *halagh

Dan ketika saya bertemu dengan teman-teman yang lain mereka seakan tidak percaya bahwa saya baru sebatas judul. Belum sekeren mereka yang skripsinya sudah dicoret-coret oleh dosen pembimbingnya sampai BAB 3. Tak apa, seorang pemenang yang baik adalah yang menikmati setiap prosesnya dengan secara perlahan tetapi pasti bukankah begitu? *self support aja ini*

Baiklah, saya mencoba menyusun BAB 1 saat ini. Semoga pengajuan saya selanjutnya berjalan lancar. Ya tapi kalau masih harus di revisi itu berarti saya masih harus belajar lagi. Dan saya harus semangat! Pasti bisa! Ciayooooo…

Jakarta, 15 September 2014

22.50 WIB

sign

Bimbingan Pertama : Ditolak

Yah, rasa dari penolakan jurnal yang diajukan ke dosen pembimbing itu rasanya kayak udah penuh dengan harapan diterima cintanya tetapi ternyata harapan itu palsu dan kemudian dihancurin, dilindes sama tank tentara, terus kesapu angin puing-puingnya dan semuanya hancur lebur. Iya seperti itulah rasanya. Intinya menyedihkan.

Padahal saya sudah menyiapkan amunisi untuk bertempur dengan dosen pembimbing saya. Guna menjelaskan tentang penelitian yang mau saya ambil, metode pengumpulan datanya seperti apa, ehlha dalah, baru judulnya saja saya sudah diragukan. 😦 ini kali kedua saya bertemu dengannya, dan kami masih saja berdebat tentang jurnal penelitian oleh orang-orang sebelumnya.

Yang menjadi bermakna adalah akhirnya saya merasa putus asa dan kedepresian. Saya mendengar cerita rekan-rekan lainnya mereka bahkan sudah bisa lanjut bab demi bab. Sedangkan saya? Masih berkutat dengan judul ataupun dengan jurnal  penelitian sebelumnya. Sampai akhirnya saya seperti ingin menyerah kemudian menangis saja. Tapi tidak saya lakukan itu, karena saya memilih untuk berusaha menikmati prosesnya. Lagi-lagi seperti itu jawaban hiburan saya.

Kemudian, saya mengabari Mama.

“Ma, ditolak lagi. Gimana yah seharusnya?”

“Gakpapa Nduk. Itu proses namanya. Kadang harus secapek itu.”

“Tapi anak-anak lain gak sesusah ini, Ma.. aku kayak udah mau nyerah gitu aja.”

“Justru karena diawalnya susah, nanti kamu akan terbiasa dengan kesusahan selanjutnya. Yang aneh itu, kalau belum apa-apa udah dimudahin. Itu yang tanda tanya besar.”

“Prosesnya gak udah-udahan, Ma.”

“Kamu beneran frustasi yah, Nduk? Jangan gitu dong. Banyak-banyak berdo’a gih sana. Jangan merasa capek dalam do’amu ya.”

“Iya. Insya Allah.”

Semacam itulah jawaban dari Mama yang menasihati anaknya yang sedang dilanda kegalauan. Ada benarnya memang, kalau dari awal saya sudah terlena dengan kemudahan yang diberikan, pasti saya akan dengan mudahnya meremehkan skripsi saya.

Well, saya berdo’a untuk tidak pernah merasa capek ataupun kesal dengan apa yang terjadi di bimbingan kedua nanti. Tak apa, semua itu proses. Karena pada akhirnya, semua yang saya jalani nantinya akan menghasilkan sebuah titik akhir. Dimana titik akhir itu hanya ada dua pilihan, mengulang di semester depan, atau lulus. Semoga saja saya bisa berhasil dengan baik. Amin.

Jadi, ini cerita bimbingan pertama saya. Semoga besok pagi saya mendapatkan kabar baik dari Dosen pembimbing saya. I’ll update later. *cheers*

 

Jakarta, 14 September 2014

00.05 WIB

sign